telusur.co.id -Anggun Mochammad Yusuf, alumni angkatan pertama Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR), sukses membangun klinik hewan berskala internasional. Klinik hewan yang diberi nama Amy Animal Care kini telah memiliki empat cabang yang tersebar di Indonesia dan Brunei Darussalam.
Lahir dan besar di Banyuwangi, Anggun mengaku telah menanamkan jiwa bisnis sejak usia muda. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter hewan dan menjalani sumpah profesi, ia memutuskan untuk berkarier di luar negeri. Pada tahun berikutnya, Anggun berangkat ke Brunei Darussalam dan bekerja selama satu tahun untuk mengasah kemampuan klinis sekaligus menyiapkan rencana membangun usaha mandiri.
“Orang yang bekerja milik sendiri akan gampang mencari waktu untuk kita sendiri, dan akan enjoy dengan apa yang akan kita lakukan,” jelas Anggun.
Sepulang ke Indonesia, Anggun mendirikan Amy Animal Care pertama kali di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Klinik tersebut berkembang pesat dan mendapat respons positif dari masyarakat. Pada tahun 2023, ia memperluas usahanya dengan membuka cabang kedua di Brunei Darussalam. Selanjutnya, cabang ketiga resmi beroperasi di Klatak, Banyuwangi, pada April 2025, disusul pembukaan cabang keempat di Jajag, Banyuwangi, pada tahun yang sama.
“Semua sudah saya persiapkan dan diperhitungkan sejak awal. Mulai dari tempat, alat praktik, hingga konsep layanan,” ujar Anggun.
Ia menjelaskan, keunggulan Amy Animal Care terletak pada layanan yang komprehensif. Klinik ini tidak hanya menyediakan layanan klinik umum, tetapi juga laboratorium, pet shop, home service, serta fasilitas rawat inap (opname) untuk hewan besar. Selain itu, Amy Animal Care juga menangani kasus penyakit virus yang tidak semua klinik berani menerima.
Jenis hewan yang dilayani pun beragam, mulai dari hewan peliharaan, hewan akuatik, unggas, hingga satwa liar. Menurut Anggun, konsep layanan tersebut lahir dari pengalamannya selama menjalani masa magang sejak semester pertama kuliah.
Anggun mengaku aktif magang di berbagai klinik, termasuk di luar Pulau Jawa, untuk mempelajari sistem operasional klinik, manajemen bisnis, serta kebutuhan layanan kesehatan hewan. Pengalaman tersebut kemudian dievaluasi dan diterapkan dalam pengembangan Amy Animal Care.
“Dokter hewan tidak hanya memahami hewan peliharaan, tapi juga hewan akuatik, unggas, hingga satwa liar. Dari situ saya mencicil kebutuhan untuk membuka klinik,” jelasnya.
Dalam mengembangkan usahanya, Anggun juga rutin mengikuti seminar dan membangun jejaring dengan berbagai klinik lain. Menurutnya, modal utama dalam berwirausaha tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga relasi, kemampuan berbicara di depan publik, sikap profesional, serta kemampuan membangun kedekatan dengan pelanggan.
Ke depan, Anggun berharap Amy Animal Care dapat terus berkembang dengan membuka lebih banyak cabang, menciptakan lapangan kerja baru, serta tumbuh menjadi jaringan klinik hewan internasional di berbagai negara.
“Kenalilah diri sendiri dan semangat belajar. Kalau tidak belajar, kita akan tertinggal. Sejak masuk fakultas, mahasiswa harus tahu ingin jadi apa dan mau ke mana,” pungkas Anggun.




