telusur.co.id - Spirit sumpah pemuda yang dicetuskan pada tahun 1928 silam harus terus digelorakan di tengah kemajemukan untuk menata masa depan Indonesia ke arah yang lebih baik.
Hal itu dikatakan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPP PGK) Bursah Zarnubi saat memberikan sambutan Seminar Sehari bertajuk "Menggelorakan Sumpah Pemuda Dalam Pembangunan Berkelanjutan" di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/19).
"Bagaimana kita menggelorakan nilai-nilai Sumpah Pemuda untuk memperkokoh persatuan bangsa sekaligus menjadi pendorong agar kita dapat menjadi bangsa pemenang di era kemajuan teknologi dan kerasnya persaingan global," kata Bursah.
Menurut Bursah, harus ada kesadaran kolektif bahwa Indonesia merupakan negara majemuk, karena tidak banyak negara di dunia yang penduduknya majemuk seperti Indonesia, baik dalam hal bahasa daerah, suku, ras, adat dan tradisi serta keyakinan.
"Dengan kemajemukan seperti ini, aset utama bangsa Indonesia adalah spirit persatuan, toleran terhadap perbedaan, kerukunan, kekompakan, dan persaudaraan. Bersatu di tengah keberagaman sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika," ujarnya.
"Kita berhutang budi kepada para pendiri bangsa yang di usia muda menyelenggarakan Kongres Pemuda II di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928," tambahnya.
Sumpah Pemuda, kata Bursah, merupakan tonggak bersejarah yang memandu arah perjuangan bangsa menuju era kemerdekaan. Sumpah Pemuda adalah bukti nyata kepeloporan kaum muda dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Dikatakan Bursah, wujud nyata kepeloporan pemuda adalah merumuskan visi Indonesia sebagai negara merdeka, berdaulat, sejahtera, maju bersama di tengah keberagaman.
"Banyak pemimpin atau tokoh-tokoh dunia merasa takjub melihat Indonesia dapat menjaga persatuan dan hidup rukun di tengah kemajemukan yang ada ini," terang Bursah.
Lebih lanjut Bursah mengungkapkan, belakangan ini banyak peristiwa yang mengancam persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Ada ancaman perpecahan yang datang dari luar, dan juga ancaman dari dalam negeri sendiri. Ancaman dari dalam, menurut Bursah, antara lain dipicu oleh isu ketidakadilan pembangunan.
"Syukur Alhamdulillah, para pemimpin bangsa, didukung solidaritas TNI-Polri dan segenap elemen bangsa, secara bersama-sama dapat menjaga keutuhan NKRI dan merawat persatuan bangsa," ungkapnya.
Menurut Bursah, pemuda sebagai penerus dan pewaris masa depan bangsa, harus dapat merawat persatuan yang telah diperjuangkan generasi masa silam. Sebab, kata dia, ancaman terhadap persatuan, kedamaian, dan kerukunan bangsa bisa datang dari banyak sisi.
"Mulai dari masalah kemiskinan, isu ketidakadilan pembangunan seperti dominasi kolompok atau daerah tertentu dalam menikmati basil pembangunan, kepentingan asing untuk menguasai ekonomi Indonesia, hingga masuknya paham-paham baru akibat pengaruh globalisasi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila," katanya.
Untuk diketahui, hadir dalam Seminar Sehari tersebut, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang menjadi keynote speaker. Adapun, narasumber seminar tersebut antara lain, Anggota DPR RI Milenial, Farah Puteri Nahlia, Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno dan Ketum PB HMI Saddam Al Jihad. [Fhr]



