Dari Seleksi Bahan hingga Distribusi, SPPG Maxima Tazkia Utamakan Keamanan Pangan - Telusur

Dari Seleksi Bahan hingga Distribusi, SPPG Maxima Tazkia Utamakan Keamanan Pangan

Kepala SPPG Maxima Tazkia Hafia, Daniswara Zuhdi (kiri) didampingi Ahli Gizi, Bella (kanan) saat menjelaskan standar keamanan pangan operasional MBG. Sumber foto: dok.telusur.co.id

telusur.co.id - Aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama dalam operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Maxima Tazkia.

Setiap tahapan produksi makanan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi ke sekolah, dilakukan dengan pengawasan ketat untuk mencegah risiko kontaminasi dan menjaga kualitas pangan.

Kepala SPPG Yayasan Maxima Tazkia Afia, Daniswara Zuhdi, mengatakan seluruh proses pengolahan makanan diawali dengan seleksi bahan baku yang datang setiap hari.

Bahan yang diterima diperiksa dari sisi kualitas maupun jumlah sebelum disimpan di gudang sesuai karakteristiknya.

“Bahan baku yang datang kami seleksi terlebih dahulu. Kami lihat kualitasnya dan memastikan kuantitasnya sesuai. Setelah itu disimpan di gudang kering maupun gudang basah sebelum masuk ke tahap produksi,” ujar Daniswara saat ditemui di dapur SPPG Yayasan Maxima Tazkia, Kamis (11/6/2026).

Menurut dia, proses persiapan dimulai sejak pagi dengan kegiatan pencucian sayuran, pemotongan bahan, hingga marinasi daging, ikan, atau ayam.

Adapun proses memasak dilakukan dalam dua kloter untuk menjaga kualitas makanan hingga diterima oleh siswa.

“Pemasakan dilakukan pada dini hari dan pagi hari. Sistem dua kloter ini diterapkan agar jeda antara makanan selesai dimasak dan waktu distribusi tidak terlalu lama,” tutur Daniswara.

Daniswara menegaskan, seluruh operasional dapur mengacu pada standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) serta prinsip keamanan pangan dan keselamatan kerja.

Dia juga menyebutkan, pengawasan dilakukan secara rutin oleh ahli gizi dan manajemen dapur untuk memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai ketentuan.

Selain menjaga kualitas makanan, dapur MBG juga menerapkan pemisahan area kerja guna mencegah terjadinya kontaminasi silang.

Siklus operasional dapur berlangsung selama 24 jam, termasuk proses pencucian dan penyimpanan kembali wadah makanan atau ompreng yang telah digunakan.

“Yang paling kami jaga adalah tidak terjadi kontaminasi silang antara satu proses dengan proses lainnya. Karena itu alur kerja dapur sudah diatur secara ketat,” ungkap Daniswara.

Setelah makanan didistribusikan ke sekolah, tim dapur melakukan evaluasi melalui pemantauan sisa makanan yang dikembalikan.

Sisa makanan ditimbang dan dianalisis untuk mengetahui tingkat penerimaan menu oleh para siswa.

Dari hasil pemantauan tersebut, pihak pengelola dapat menilai menu yang paling disukai maupun yang kurang diminati penerima manfaat.

Sementara itu, Daniswara menerangkan, sisa makanan yang terkumpul tidak langsung dibuang, melainkan disalurkan kepada pembudidaya maggot di sekitar wilayah operasional.

Lebih lanjut, dia menuturkan, operasional MBG juga memperhatikan aspek lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Yayasan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan sekitar serta menggunakan produk UMKM lokal yang memenuhi standar mutu dan keamanan pangan.

Hingga saat ini, sambung Daniswara, pelaksanaan program yang melayani sekitar 3.000 penerima manfaat tersebut berjalan tanpa keluhan berarti terkait kualitas makanan.

Sebaliknya, pihaknya justru kerap menerima masukan dan usulan menu dari para penerima manfaat.

"Alhamdulillah, keluhan hampir tidak ada. Yang lebih banyak justru permintaan atau usulan menu dari penerima manfaat,” pungkas Daniswara.

 

 

Laporan: Malik Sihite


Tinggalkan Komentar