telusur.co.id - Pagi telah tiba, sang surya mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin dan membakar semangat baru dihari yang baru.
Dipagi tersebut bergegas anak-anak yang pantang surut menggali ilmu walau dimasa pandemi Covid19. Berbagai macam cara dilakukan mereka untuk mendapatkan pembelajaran.
Ada yang les dengan menggunakan jasa guru, adapula yang belajar daring di rumah masing-masing. Namun ada juga yang belajar daring bersama teman.
Seperti Dede Irfansyah, Adi Jonata Prizi, Ferdi Ramadhan, Hidayah Putra Saufi, M. Ridho dan M. Irfansyah yang juga warga Dusun VI, Desa Sei Alim Hasak, Kecamatan Sei Dadap, Kabupaten Asahan, Sumut. Anak-anak ini merupakan pelajar yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD.
Hari semakin cerah, sang Surya semakin memancar, panas mulai menyelimuti tubuh. Namun keenam anak tersebut tetap semangat dalam menjalankan misinya. Walau mereka harus belajar daring di tempat yang terbuka tanpa lindungan langsung dari matahari. Sebab, di tempat itu adalah tempat yang bagus untuk mendapatkan jaringan wi-fi.
Menguras kantong, dengan mengeluarkan iuran Rp. 500 per orang untuk membeli paket wi-fi selama 3 jam.
Tampak 1 buah handphone android milik salah satu anak, diletakkan tepat dihadapan mereka untuk diikuti keterangan pembelajaran.
Dijelaskan oleh salah satu diantara mereka bernama Dede Irfansyah bahwa tidak ada cara lain untuk bisa belajar selain belajar daring secara bersama. Sebab, keterbatasan ekonomi orang tua mereka menghalangi untuk belajar dengan cara les.
"Setiap hari kami belajar di sini om, pakai wi-fi bayar tiga ribu selama tiga jam. Kami iuaran lima ratus per orang. Mau les gak ada gurunya, kalaupun ada gurunya bayarnya pasti mahal," jelas Dede Irfansyah.
Besar harapan keenam anak ini agar bisa belajar normal di sekolah. "Ya pingin lah belajar di sekolah kayak biasanya om, lebih jelas bisa diterangkan guru. Gak kayak sekarang, masuk sekolah hanya seminggu sekali. Uda gitu belajarnya pakai hp kurang jelas," keluh anak-anak tersebut.



