telusur.co.id - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Dewi Juliani, mempertanyakan komitmen Pertamina dalam menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Riau yang kerap mengalami kelangkaan.
Hal itu disampaikan Dewi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama Pertamina di ruang Komisi VI DPR RI, Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/02/2026).
Menurut Dewi, kelangkaan BBM di Riau bukan hanya terjadi pada satu jenis bahan bakar, melainkan beberapa produk sekaligus.
“Bukan hanya jenis solar, tetapi juga Pertamax 92 dan Pertamax Turbo. Padahal yang kita ketahui, 24 persen produksi minyak nasional itu berasal dari dapil kami. Itu sama dengan seperempat produksi nasional Indonesia,” ujarnya.
Dewi yang mewakili Dapil Riau I menegaskan, persoalan kelangkaan BBM di wilayahnya bukanlah kejadian baru. Hingga saat ini, kata dia, masyarakat masih kerap menghadapi keterbatasan pasokan.
“Sampai sekarang masih saja mengalami kelangkaan BBM. Saya mohon ini menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Riau telah mengajukan permohonan penambahan kuota BBM. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut yang jelas, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat, terutama menjelang Idul Fitri.
“Pemerintah provinsi sudah mengajukan penambahan kuota, tetapi belum ada realisasi. Apalagi kita akan menghadapi Idul Fitri, tentu kebutuhan meningkat,” tuturnya.
Politisi PDIP itu meminta Pertamina tidak menunggu hingga kelangkaan terjadi berulang, melainkan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketersediaan stok BBM di Riau tetap aman dan stabil.
Ia juga mempertanyakan konsistensi distribusi, mengingat Riau merupakan salah satu daerah penyumbang terbesar produksi minyak nasional.
“Bagaimana memastikan stok BBM ini, terlebih di Riau, agar konsisten? Masalah ini berulang-ulang, sementara 24 persen minyak nasional berasal dari dapil kami,” pungkasnya.



