Din Ingatkan Jangan Ada Upaya Hilangkan Jejak Islam Dari Indonesia - Telusur

Din Ingatkan Jangan Ada Upaya Hilangkan Jejak Islam Dari Indonesia


telusur.co.id - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin meminta agar tidak ada pihak-pihak yang berupaya menghilangkan jejak Islam dari sejarah Indonesia dengan sengaja membuat tipu daya. Sebab, menurut dia, bila itu tetap dilakukan, justru bisa merugikan Indonesia.

"Umat Islam, ormas-ormas Islam, ulama-ulama, mari kita hadirkan keyakinan dan kesadaran betapa keislaman dan keindonesiaan itu tak terpisahkan. Maka perlu kita berjuang dalam bingkai NKRI, yang berdasarkan Pancasila, yang datang dari tokoh Islam yang sarat dengan muatan nilai keislaman," kata Din dalam diskusi bertajuk "Peran Umat Islam yang terlupakan dalam Pembentukan Negara RI" di gedung MUI, Kawasan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/19).

Wantim MUI, kata Din, memberi rekomendasi kepada MUI untuk bersama-sama melanjutkan pencerahan kepada bangsa terkait sejarah yang hakiki, sejati dan benar tentang kehidupan kebangsaan.

"Maka pada kongres umat Islam Indonesia yang akan datang, 2020, baik adanya untuk menjadi tema dan fokus pembicaraan meluruskan sejarah bangsa. Dan sekaligus hal yang sama, umat Islam harus meluruskan kiblat bangsa sesuai cita-cita nasional," tutur dia.

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini juga menyinggung soal deviasi, distorsi, dan disorientasi serta penyimpangan pada saat ini. Menurutnya hal tersebut merupakan bentuk kezaliman yang dilakukan oleh pihak yang ingin mengklaim secara sepihak terhadap Pancasila dan Binneka Tunggal Ika.

"Dalam nada menuduh khususnya Islam dan umat Islam. Karena itu, saya kira sekali lagi, mari bersama-sama, tentu ini semua harus menjelma alam orientasi kehidupan kebangsaan kita yang menegakkan keadilan memberikan tempat yang wajar bagi Islam dan umat Islam," ujarnya.

Dilanjutkannya, jika umat Islam tidak mendapatkan proporsi yang sewajarnya, maka ini akan mengganggu keseimbangan nasional sehingga bisa menciptakan kegoyangan "Mohon dipahami semua pihak khususunya pemangku amanat," ucapnya.

Dalam rapat pleno kali ini, Wantim MUI mengundang sejarawan muslim Indonesia, Ahmad Mansur Suryanegara, yang merupakan penulis buku sejarah "Api Sejarah". Mansur mengungkapkan, ada satu usaha untuk melakukan deislamisasi dalam sejarah Indonesia.

Sebagai contoh, papar Mansur, yang memimpin gerakan nasional seharusnya adalah Sarekat Islam. "Tetapi Budi Oetomo yang menentang gerakan Islam, yang menentang gerakan kemerdekaan, yang dia itu membantu Belanda, justru dianggap pelopor kebangkitan nasional," tukasnya.[Ham]


Tinggalkan Komentar