telusur.co.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam proposal balasan terbaru Iran. Ia menyebutnya "sama sekali tidak dapat diterima" dan "bodoh". Teheran mengirimkan proposal itu ke Washington melalui Pakistan selaku mediator pada akhir pekan lalu.
Dilansir NHK Wold, Senin (11/05/2026) Trump memperingatkan bahwa gencatan senjata berada pada tahap kritis, dengan mengatakan bahwa gencatan senjata itu dalam kondisi berbahaya dan mungkin akan runtuh. Ia mengatakan proposal Iran adalah "sampah" dan bahwa dirinya belum selesai membacanya.
Namun, ia juga mengatakan bahwa ia masih percaya solusi diplomatik "sangat mungkin", meskipun ia kemudian menyalahkan Iran karena mengubah pendiriannya, serta menyebut para pemimpinnya sebagai "orang-orang yang sangat tidak jujur".
Para pejabat Iran membantah tuduhan bahwa tuntutan mereka berlebihan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa ia menyesalkan AS terus bersikeras dengan pandangan sepihak dan tuntutan yang tidak masuk akal.
Kantor Berita Iran, Tasnim, melaporkan tanggapan Teheran pada Minggu (10/05/2026). Disebutkan bahwa proposal tersebut berfokus untuk mengakhiri konflik, termasuk di Libanon, mencabut blokade, dan membebaskan aset Iran yang dibekukan.
Sebuah laporan The Wall Street Journal pada Minggu mengutip sumber yang mengatakan bahwa Teheran mengusulkan pembicaraan tentang program nuklirnya. Sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa isu nuklir akan dinegosiasikan dalam 30 hari ke depan. Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa Iran mengusulkan agar sebagian uranium yang sangat diperkaya miliknya diencerkan dan sisanya dipindahkan ke negara ketiga.
Namun, Kantor Berita Tasnim membantah laporan surat kabar AS tersebut, dengan menyebut klaim tentang isu nuklir itu tidak benar.



