telusur.co.id - Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo kembali menyoroti polemik nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat terkait rencana impor ayam dan beras. Ia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif signifikan terhadap petani padi dan peternak unggas nasional.
Menurut Firman, pembukaan keran impor dari negara dengan sistem produksi pangan yang sangat efisien seperti Amerika Serikat akan menciptakan persaingan yang tidak seimbang. Produk impor yang lebih murah dikhawatirkan menekan harga di tingkat petani dan peternak lokal.
“Kalau produk impor masuk dengan harga lebih kompetitif, petani dan peternak kita yang terpukul pertama. Harga bisa jatuh, pendapatan menurun, dan mereka kehilangan pasar,” tegasnya.
Firman juga mengkritik potensi meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan pangan luar negeri. Ia menilai langkah tersebut kontradiktif dengan semangat swasembada yang selama ini digaungkan pemerintah.
“Baru saja kita menikmati stabilisasi harga yang menggembirakan petani sebagai produsen padi. Spirit swasembada yang belum lama dibangun jangan sampai dilemahkan oleh kebijakan yang tidak transparan,” ujarnya.
Ia mempertanyakan istilah “beras khusus” yang disebut dalam MoU tersebut. Hingga kini, menurutnya, pemerintah belum mampu menjelaskan secara gamblang definisi maupun urgensi impor beras dan daging ayam dari Amerika Serikat.
“Kalau memang disebut beras khusus, khusus untuk siapa? Apa kriterianya? Jangan sampai istilah ini hanya menjadi pintu masuk bagi liberalisasi impor yang merugikan petani kita,” katanya.
Sebelumnya, kritik serupa juga disampaikan oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Kedua organisasi tersebut meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh dan transparan, termasuk membuka kajian dampak ekonomi serta sosial terhadap sektor pertanian dan peternakan nasional.
Firman menyatakan sependapat dengan desakan tersebut. Ia menegaskan bahwa kebijakan pangan bukan semata persoalan perdagangan, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup jutaan petani dan peternak kecil di dalam negeri.
Selain itu, ia mengingatkan potensi efek domino terhadap industri pendukung seperti pabrik pakan ternak dan industri pengolahan pangan. Jika produk impor mendominasi pasar, rantai ekonomi domestik berisiko terganggu.
“Kalau tamu datang ke Indonesia, silakan menikmati produk beras dan ayam hasil petani serta peternak kita. Jangan justru kita yang membuka ruang lebar bagi produk luar untuk menggantikan hasil kerja rakyat sendiri,” ujarnya.
Firman pun menekankan agar pemerintah tidak terlalu memprioritaskan kepentingan asing dengan mengorbankan produksi nasional.
“Semangat dan moral petani jangan sampai runtuh karena kebijakan yang tidak berpihak. Negara harus hadir melindungi produksi dalam negeri, bukan justru membuka ruang ancaman baru,” pungkasnya. [ham]



