telusur.co.id -Persija belakangan ramai dilabeli sebagai "APBD FC" oleh warganet dan pendukung rival di papan atas Super League 2025/2026. Sindiran pedas ini mencuat menyusul terpampangnya logo empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta sebagai sponsor utama di jersi kebanggaan tim berjuluk Macan Kemayoran.
Keempat perusahaan pelat merah tersebut adalah Bank Jakarta, Transjakarta, MRT Jakarta, dan PAM Jaya.
Direktur Persija, Mohamad Prapanca, mengaku terusik dengan narasi yang berkembang. Ia pun angkat suara mengenai label yang dirasas negatif tersebut.
"Oke. Agak, apa namanya, agak risih juga ya dengarnya ya. Dan saya nggak tahu itu buzzer atau memang itu suporter Persija, atau provokator gitu ya," ujar Prapanca pada acara Ngopi Bareng Persija dikutip dari Bola.net, Rabu (11/3).
Prapanca menyayangkan lemahnya filterisasi digital yang membuat opini liar berkembang tanpa dasar mengenai klubnya tersebut.
"Tapi ya balik lagi, karena kelemahan kita di filterisasi digital, jadi semua orang wes seenak udelnya dewe omong gitu di sosial media," tambahnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kolaborasi strategis ini bermula dari komitmen Gubernur Jakarta, Pramono Anung. Pascapelantikan, Gubernur menyatakan keinginannya untuk memperkuat identitas kota dengan jargon "Jakarta Harus Lebih Persija".
"Anyway, saya bisa jelaskan terkait dengan apa yang kolaborasi dengan pihak Pak Gubernur, dalam hal ini. Di mana pada saat Pak Gubernur dilantik menjadi apa, Pak Pramono dilantik menjadi gubernur, beliau memberikan statement 'Ingin Jakarta Lebih Persija'. Silakan dicek semua itu ada di statement beliau," tegas Panca.
Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan beberapa BUMD murni hubungan business-to-business (B2B) yang saling menguntungkan, bukan kucuran dana hibah cuma-cuma. BUMD memanfaatkan basis massa Persija yang masif untuk mensosialisasikan program kerja mereka khususnya menyangkut warga kota Jakarta.
Prapanca mencontohkan, PAM Jaya menggunakan platform digital Persija untuk mengedukasi warga mengenai proyek galian infrastruktur agar tidak memicu keluhan banjir atau macet.
Selanjutnya, Bank Jakarta yang sebelumnya bernama Bank DKI, tengah melakukan rebranding besar-besaran demi mengejar target melantai di bursa saham (listing). Prapanca menyebut penggunaan jasa Persija jauh lebih efisien secara anggaran dibandingkan jasa konsultan promosi konvensional.
Prapanca menepis masalah isu transparansi kerja sama dengan BUMD tersebut. Ia memastikan bahwa setiap rupiah yang dikerjasamakan dipantau oleh lembaga pengawas negara.
"Tapi kita juga kerja untuk membuat konten, untuk membuat program PAM lebih diketahui oleh khalayak umum. Khususnya warga Jakarta. Gitu. Itu terkait PAM. Saya harus jelasin detail ini, biar nanti para stakeholder termasuk apa namanya, dewan pengawas dari masing-masing BUMD ini juga bisa melihat ini. Gitu. Itu kan ada BPKP, ada BPK, ada Irjen dan lain-lain," ungkapnya.
Bukan hanya membela klubnya, Prapanca justru menyarankan agar klub-klub di daerah lain mencontoh langkah kolaborasi ini daripada sekadar melempar sindiran. Menurutnya, setiap daerah memiliki peluang yang sama untuk bersinergi dengan pemerintah provinsi masing-masing.
"Lho, kalau seandaikan gitu, silakan klub lain lakukan hal yang sama. Kan bagus juga. Gitu. Kan masing-masing klub kan punya Pemprov. Pemprov-nya perlu untuk mensosialisasikan, biar enggak saling menyalahkan, gitu," tutur Prapanca dikutip Bola.net.
Terakhir, ia menutup dengan berharap agar kanal media Persija bisa menjadi manfaat bagi warga Jakarta dan meminimalisir gesekan oknum yang tidak bertanggung jawab yang hanya memprovokasi agar tetap memelihara perselisihan.
"Nah Jakarta ini, mudah-mudahan warganya selalu bisa berkolaborasi, gitu. Dan pasti, saya bilang, selalu ada oknum. Tapi gimana caranya melalui kanal media Persija, ini akan menjadi manfaat yang baik. Nah, itu mungkin kira-kira yang saya bisa sampaikan," tutupnya.



