Gizi untuk Belajar, Belajar untuk Hidup - Telusur

Gizi untuk Belajar, Belajar untuk Hidup


Telusur.co.idOleh : Prof. Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Pd.

Tulisan ini hanya difokuskan pada apakah program makan bergizi di sekolah memiliki dampak, bagi sekolah, anak, keberlanjutan sekolah dan potensi menggerakan dinamika ekonomi lokal. Tidak menutup mata, masih banyaknya problem di lapangan dan perencanaan secara nasional.

Intervensi gizi berbasis sekolah tidak hanya berdampak pada kesehatan anak dalam jangka pendek, tetapi juga mempengaruhi capaian pendidikan dalam siklus kehidupan berikutnya (Wang et al., 2021). Anak yang mendapatkan asupan nutrisi memadai selama masa sekolah cenderung memiliki fungsi kognitif yang lebih stabil. Stabilitas ini berdampak pada kemampuan literasi, numerasi, serta daya tahan belajar di kelas (Metwally et al., 2020).

Dalam konteks Indonesia saat ini, persoalan stunting dan anemia pada anak usia sekolah masih menjadi problem serius dalam pembangunan sumber daya manusia (Meiyetriani & Utomo, 2025). Asupan gizi yang tidak merata dapat menyebabkan kesenjangan performa akademik antar wilayah yang semakin melebar. MBG di sekolah merupakan opsi untuk memastikan distribusi nutrisi bisa berlangsung secara lebih merata.

Ketika program makan di sekolah diintegrasikan secara konsisten, memungkinkan dampaknya tidak hanya dapat meningkatan kehadiran siswa. Lebih jauh dari itu, anak-anak yang belajar dalam kondisi tidak lapar juga dapat meningkatkan kemampuan fokus yang lebih tinggi dalam menyerap materi pembelajaran (Elkhatir et al., 2025). 

Selain itu, program gizi sekolah dapat mempengaruhi keberlanjutan capaian pendidikan hingga jenjang menengah. Anak-anak yang mengalami kecukupan nutrisi sejak dini cenderung memiliki peluang lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan formal. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkorelasi dengan peningkatan mobilitas sosial dalam struktur masyarakat.

Pendekatan home-grown school feeding juga diyakini menjadi model distribusi yang berpotensi menghubungkan kebutuhan sekolah dengan produksi pangan lokal. Bahan makanan yang disediakan bagi siswa dapat dipasok langsung dari petani sekitar. Skema ini dapat menciptakan hubungan timbal balik antara sektor pendidikan dan ekonomi pedesaan.

Di Indonesia, potensi integrasi antara program makan sekolah dan pertanian lokal sangat besar, mengingat banyak sekolah berada di wilayah agraris. Pengadaan bahan pangan dari petani setempat dapat memperkuat stabilitas harga hasil panen. Selain itu, rantai distribusi yang lebih pendek memungkinkan efisiensi logistik yang signifikan.

Program semacam ini juga berpotensi dapat meningkatkan pendapatan petani kecil melalui kontrak penyediaan bahan pangan. Permintaan yang stabil dari institusi dapat menciptakan kepastian pasar. Dalam jangka panjang, kepastian tersebut dapat mendorong petani untuk meningkatkan kualitas produksi serta diversifikasi komoditas.

Oleh karenanya, sektor pendidikan tidak lagi berdiri terpisah dari dinamika ekonomi masyarakat sekitar. Sebaliknya, institusi sekolah berperan sebagai penggerak ekosistem sosial yang produktif.

Program makan di sekolah dapat diposisikan sebagai investasi sosial yang melampaui fungsi bantuan konsumsi semata. Integrasi antara intervensi gizi dan pemberdayaan ekonomi lokal menjadi kunci keberdampakan program.

*Penulis adalah Guru Besar bidang Ilmu Pendidikan Islam di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.


Tinggalkan Komentar