telusur.co.id - Anggota Komisi IX DPR RI, M. Nabil Haroen menanggapi maraknya perdebatan di media sosial dan ruang publik tentang apakah pemerintah layak memberikan subsidi pesawat murah, untuk menjaga stabilitas pariwisata regional.
Sebagaimana diketahui, pemerintah Indonesia menggelontorkan Rp 443,39 miliar untuk diskon 30 persen tiket pesawat ke 10 destinasi wisata. Insentif ini akan dirasakan 25 persen penumpang per pesawat yang berlaku sejak Maret-Mei 2020.
Pria yang karib disapa Gus Nabil ini mengatakan, pemerintah seharusnya fokus terhadap penanganan pasien terdampak virus Corona dan peningkatan pelayanan kesehatan. Pemerintah Indonesia harus punya prioritas untuk menangani persebaran virus Corona dengan peningkatan pelayanan kesehatan.
"Anggaran sebaiknya difokuskan untuk pencegahan persebaran virus, penyembuhan pasien, serta langkah-langkah lanjutan untuk menekan korban terdampak virus corona," kata Gus Nabil dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (12/3/20).
Gus Nabil meminta, kebijakan pengobatan gratis bagi pasien terdampak corona itu harus dikawal. Menteri Kesehatan menyatakan pemerintah menanggung seluruh biaya perawatan pasien yang terinfeksi virus Corona. Kebijakan ini tertuang melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/104/2020 tentang Penetapan Infeksi Novel Coronavirus (Infeksi 2019-nCoV) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangannya.
"Kebijakan ini harus dikawal, agar implementasinya betul-betul dirasakan warga. Jangan sampai ada misleading dan salah persepsi dalam eksekusinya pada pelayanan kesehatan/perawatan pasien. Kebijakan ini juga membutuhkan anggaran besar, serta tenaga ekstra dari tenaga medis. Harus ada pengawalan, kalkulasi anggaran serta informasi yang jelas ke publik," tutur Politikus PDIP ini.
Gus Nabil mengakui, memang betul harus ada upaya untuk mencegah pelambatan ekonomi, khususnya dampak dari persebaran virus corona. Tapi menurutnya, banyak negara mengalami hal yang sama. Karena ini krisis global yang dirasakan hampir semua negara.
"Tapi, jangan sampai salah langkah hingga kriris yang lebih besar. Negara Italy dan Iran harus jadi contoh, jangan sampai negara kita lockdown karena persebaran virus corona. Kalau seperti itu, diskon tiket pesawat dan insentif anggaran untuk pariwisata tidak ada gunanya, karena pasti wisatawan akan menunda perjalanan," terang dia.
Menurut Gus Nabil, tiket murah dan penyebaran virus corona adalah dua hal yang berbeda. Tiket murah tidak bisa dianggap sebagai biang wabah corona. Tiket murah di wilayah bisnis/kebijakan ekonomi, sedangkan virus corona itu penyakit.
"Meski demikian, pemerintah harus menimbang ulang penggelontoran insentif untuk pariwisata. Prioritasnya di peningkatan pelayanan kesehatan," kata Ketua Pagar Nusa NU itu.
Dia menilai, yang harus ditingkatkan adalah kesadaran masyarakat Indonesia untuk proaktif mencegah penularan/persebaran virus Corona. Mereka yang baru perjalanan dari luar negeri, dari negara-negara yang tingkat infeksi virus corona tinggi, harus melapor ke rumah sakit yang dirujuk ke pengobatan Corona, atau mengikuti aturan sesuai dengan petunjuk dari Kementrian Kesehatan dan unit terkait.
Di sisi lain, tambah dia, warga Indonesia perlu mengurangi kegiatan-kegiatan berkumpul dengan massa dalam jumlah besar, yang kita tidak tahu apakah steril dari virus atau tidak. Intinya kita perlu meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan, meski tidak boleh panik di tengah krisis penyakit ini.
"Pemerintah dengan beberapa unit di bawahnya, harus terus menerus bekerja keras untuk mengatasi persebaran virus corona ini, dengan peningkatan layanan kesehatan, serta pemberian informasi yang akurat dari satu pintu untuk menumbuhkan kepercayaan dan kejelasan petunjuk/mekanisme mengatasi persebaran virus bagi warga Indonesia," pungkasnya. [Tp]



