telusur.co.id - Anggota Komisi IV DPR, Dedi Mulyani meminta kepada pemerintah pusat maupun daerah agar memberikan insentif yang sesuai dengan kinerja para relawan yang memadamkan kebarana lahan. Dedi pun kaget relawan yang diterjunkan di daerah hanya diberikan 100 ribu per bulan.
“Intensif yang diberikan kepada relawan kebakaran hutan di beberapa derah di Kalimantan Tengah, sangat sangat minim. Mereka hanya menerima Rp 100 ribu/bulan. Kondisi ini yang harus menjadi perhatian serius, karena peran mereka sangat penting,” desak Dedi melalui akun media sosialnya, Kang Dedi Mulyadi @DediMulyadi71, Kamis.
Kedepan, Dedi mendesak agar para relawan harus diperhatikan kesejahteraanya dan diasuransikan kesehatannya. Agar kebakaran hutan bisa dicegah dengan memberdayakan relawan.
Dedi melanjutkan, desa yang alami problem kehutanan yang cukup pelik dan berpotensi alami kebakaran hutan tadi, maka alokasi dana harus ditambah dan diperlukan untuk retorasi pengelolaan hutan. Selain itu perlu ditingkatkan satgas pencegahan hutan.
“Masukan dari kepala desa dan relawan yang ada di Kalimantan Tengah, satgas ini setiap desa perlu 20 orang. Dia berjaga di hutan untuk mencegah kebakaran. Kepala Desa Tanjung Taruna mengusulkan dapat upah Rp 1,5 juta /bulan dan bantuan operasional. Ini akan mencegah kebakaran,” usulnya.
Selain itu, Dedi juga mengingatkan kepada pemerintah khususnya Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup agar tidak memberikan ruang kepada perusahaan pembakar lahan.
Dikatakan Dedi, berdasrkan temuan di lapangan, kebakaran hutan di Kalimantan Tengah, sebagian besar karena diduga disengaja. Baik untuk kepentingan pengolahan lahan oleh petani dan oleh korporate untuk perluasan perkebunan, terutama sawit.
“Tekait kebakaran hutan oleh perusahaan, harus tegas. Perusahaan yang sudah disegel, tak boleh lagi diberi ruang untuk usaha lagi. Termasuk personalnya, harus cegah bikin usaha baru. Biar ada efek jera,” katanya.
Mantan calon gubernur Jawa Barat itu meninjau langsung lokasi kebakaran hutan di Desa Tanjung Taruna, Kec. Jadibireun Raya, Kab. Pulau Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (7/11/2019). Menurut data dari Kepala Desa Udin Aigon, hutan terbakar di desa ini mencapai 950 ha atau terluas di Palangkaraya.
“Terkait pembukaan hutan oleh petani, maka harus dikembalikan ke konsep budaya setempat. Selain itu, perlu pemberdayaan petani agar mereka bisa memanfaatkan lahan secara berkelanjutan,” pungkas Dedi. [Ham]



