telusur.co.id – Peluncuran mobil produksi dari PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) di Boyolali, Jawa Tengah, hendaknya tak perlu diperdebatkan. Apalagi, perdebatannya hanya sebatas merk atau emblem-nya.
“Perdebatannya hanya sebatas emblem aja, emblem nya apa? emblem produk Cina atau Hongkong atau Esemka, kan perdebatannya disitu, nggak asyik perdebatannya,” kata Founder KedaiKOPI Hendri Satrio kepada telusur.co.id, Minggu (8/9/19).
Menurut Hensat, sapaan karibnya, jika tujuan dari diluncurkannya produk-produk Esemka ini dalam rangka menyambut dan meningkatkan indutri 4.0, maka semestinya disambut positif. Tentu, harapannya, mobil-mobil yang diproduksi Esemka, mampu berkompetisi dan bersaing di pasaran.
“Serkarang kita lihat aja, Esemka masuk nggak dipasaran. Kita sama-sama cek nanti biasanya kan ada pameran-pameran di Mall dan lain-lain, nanti ada GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) ya Otomotif Expo itu. Nanti kita lihat bareng-bareng aja, laku nggak barang nya (Esemka),” imbuhnya.
Kendati demikian, Hensat memhami bahwa produk mobil pikap Esemka yang diluncurkan Jokowi itu sangat mirip dengan buatan Cina. Namun, melihat kualitas dari Esemka itu ialah di pasaran.
“Kita sama-sama tahulah itu kan mirip banget sama mobil Cina, ya udah. Kita mau nunggu presiden ngejelasin tentang itu kan nggak mungkin, makanya kita lihat aja next nya di Indonesia, apakah mobil itu bisa bersaing nggak laku nggak,” paparnya.
“Kalau kemudian muncul seribu biji lakunya ada 2 atau 3, 4 lakunya yang beli menteri doang atau tambah lagi 34X10 ketua-ketua parpol yang beli, ini kan nggak lucu,” tukasnya.[Ipk]



