Ikan Sapu-sapu Merebak, Pemkot Depok Siapkan Strategi Penanganan Berkelanjutan - Telusur

Ikan Sapu-sapu Merebak, Pemkot Depok Siapkan Strategi Penanganan Berkelanjutan

Plt DLHK Kota Depok, Reni Siti Nuraeni. (Foto: Ist)

telusur.co.id - Pemerintah Kota Depok meningkatkan kewaspadaan terhadap invasi ikan sapu-sapu atau pleco yang dinilai mengancam keseimbangan ekosistem perairan.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Depok menyiapkan langkah terpadu, mulai dari penangkapan massal hingga restorasi habitat sungai.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, mengatakan, ikan sapu-sapu menjadi perhatian serius karena sifatnya yang invasif dan mampu berkembang biak dengan cepat.

“Spesies ini sangat adaptif terhadap kondisi ekstrem. Ketika dia berkembang pesat, dia akan menjadi kompetitor bagi ikan lokal, terutama dalam memperebutkan makanan,” ujar dia saat ditemui di kantornya, Selasa (28/4/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat populasi ikan lokal semakin terdesak. Berbeda dengan ikan asli yang cenderung sensitif terhadap perubahan lingkungan, ikan sapu-sapu justru mampu bertahan bahkan di perairan dengan kualitas rendah.

Tak hanya itu, ikan sapu-sapu juga disebut membawa dampak lingkungan lain. Kebiasaannya menggali di dasar lumpur dan tebing sungai menyebabkan munculnya lubang-lubang yang mempercepat erosi.

“Kalau tebing berlubang, risiko longsor meningkat dan sedimentasi makin tinggi. Ini memperparah kondisi sungai,” jelas Reni.

Reni menambahkan, keberadaan ikan sapu-sapu juga dapat menjadi indikator pencemaran. Tingginya populasi ikan ini menandakan kadar Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi, serta rendahnya kadar oksigen terlarut (DO) di air.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut dia, Pemkot Depok mengandalkan metode mechanical control berupa penangkapan ikan secara masif dan berkelanjutan.

Reni juga menyebut, program ini akan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari karang taruna, komunitas, hingga aparat wilayah.

“Nanti akan ada gerakan tangkap berkelanjutan atau semacam ‘gerebek ikan sapu-sapu’. Ini tidak bisa sekali selesai, harus rutin dan terjadwal,” kata dia.

Penangkapan akan difokuskan pada titik-titik tertentu seperti area berlumpur, lokasi dengan sedimentasi tinggi, serta wilayah yang memiliki banyak lubang sarang ikan sapu-sapu.

Selain itu, Reni bilang, pemerintah juga menyiapkan langkah restorasi habitat sebagai upaya jangka panjang. Program ini mencakup penanaman vegetasi di bantaran sungai, pemasangan bronjong untuk mencegah longsor, hingga penutupan lubang sarang ikan.

Langkah lain yang dilakukan meliputi pengendalian pencemaran air dan normalisasi aliran sungai melalui pengerukan sedimentasi. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi habitat ideal bagi ikan sapu-sapu.

Reni menegaskan, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci penting dalam penanganan masalah ini. Dia turut mengungkapkan, ikan sapu-sapu bukanlah spesies asli Indonesia, melainkan berasal dari wilayah Amazon dan awalnya dipelihara sebagai ikan hias.

Lebih jauh, dia menuturkan, pemerintah menyadari bahwa menghilangkan populasi ikan sapu-sapu sepenuhnya bukan hal yang realistis. Target utama adalah menekan jumlahnya agar tidak mendominasi ekosistem.

“Yang penting itu keberlanjutan. Kita tidak bisa hanya sekali tangkap lalu selesai. Harus terus dilakukan, dengan melibatkan masyarakat sebanyak mungkin,” pungkas Reni.

 

Laporan: Malik Sihite


Tinggalkan Komentar