I.League Sebut Liga Indonesia Paling Kompetitif di Asia Tenggara, Jadi Daya Tarik Brand Global - Telusur

I.League Sebut Liga Indonesia Paling Kompetitif di Asia Tenggara, Jadi Daya Tarik Brand Global

Forum Diskusi Water Break PSSI Pers bertajuk Membawa Liga Naik Kelas di Kantor I.League, Jakarta, Senin (31/8/2026). Foto: PSSI Pers.

telusur.co.id -Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, menilai kompetisi sepak bola Indonesia memiliki tingkat persaingan yang paling kompetitif di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Sadikin, penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada popularitas sepak bola Indonesia, tetapi juga merujuk pada data yang dimiliki Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

"Jadi kalau melihat competitiveness level kita ya, data dari AFC ya, se-Asia Tenggara ini kita sudah nomor satu," kata Sadikin Aksa dalam Forum Diskusi Water Break PSSI Pers bertajuk Membawa Liga Naik Kelas di Kantor I.League, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Sadikin kemudian membandingkan kompetisi di Indonesia dengan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya. Ia mencontohkan Persib Bandung yang mampu meraih gelar juara tiga kali secara beruntun, tetapi tetap harus menghadapi persaingan ketat untuk menjadi kampiun.

"Kenapa kita bilang begitu? Kalau kita melihat biarpun Persib juara tiga kali berturut-turut, tapi pada saat Persib mau juara itu ada kompetitif yang cukup tinggi apalagi tahun lalu sampai pekan terakhir ya," ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan kompetisi di Malaysia. Sadikin menyoroti dominasi Johor Darul Ta'zim (JDT) yang telah menjadi juara secara beruntun dalam waktu panjang.

"Tapi kalau kita bandingkan Malaysia, Malaysia itu yang namanya JDT sudah berapa tahun lebih dari 10 tahun juara berturut-turut. Sebelas kali juara gitu. Ada kompetisi enggak di situ? Begitulah cara penilaiannya," katanya.

Hal serupa, lanjut Sadikin, juga terjadi di Thailand. Ia menyebut persaingan perebutan gelar di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir cenderung berputar di antara sejumlah klub.

"Di Thailand itu kalau enggak salah 4 tim ya: Buriram, Bangkok United, BG Pathum, sama satu lagi 10 tahun yang main cuma itu saja," jelasnya.

Selain tingkat kompetisi, Sadikin menyebut besarnya basis penggemar sepak bola menjadi salah satu kekuatan utama Liga Indonesia.

Ia mengatakan data Nielsen menunjukkan Indonesia memiliki jumlah penggemar sepak bola terbesar di kawasan regional, baik dari sisi persentase maupun jumlah secara keseluruhan.

"Datanya Nielsen terbesar penggila sepak bola di regional ada di Indonesia. Baik itu persentase maupun secara kuantitas. Kita kalau mau dibanding secara kuantitas kita sudah pasti lebih besar dari mereka," tuturnya.

Sadikin menilai besarnya populasi Indonesia membuat potensi pasar sepak bola nasional jauh lebih besar dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

"Kita 50 persen dari 300 juta aja sudah 150 juta orang ya kan, itu lebih besar daripada penduduk Malaysia ya kan, lebih besar dari penduduk Thailand," katanya.

Potensi pasar tersebut, menurut Sadikin, menjadi salah satu alasan semakin banyak brand internasional yang mulai melihat sepak bola Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan.

Ia menyebut sejumlah merek global seperti Coca-Cola, Hyundai, dan Adidas telah masuk dan menjadi bagian dari ekosistem sepak bola Indonesia.

Lebih lanjut ia memaparkan, kondisi itu sekaligus menunjukkan adanya perubahan persepsi terhadap industri sepak bola Indonesia. Jika sebelumnya sejumlah perusahaan internasional masih mempertimbangkan persoalan keamanan dan kepastian penyelenggaraan kompetisi, kini situasinya mulai berubah.

"Itulah menjadi market besarnya brand-brand dunia di Indonesia. Dulu mereka pada takut masuk ke Indonesia benar, keamanan lah masalah jadwal tidak pasti. Tapi apa yang mereka rasakan 2 tahun 3 tahun terakhir? Oleh karena itu mereka masuk," pungkas Sadikin.

Masuknya brand-brand global tersebut dinilai harus menjadi momentum untuk terus meningkatkan nilai komersial kompetisi sepak bola nasional.

Sadikin menegaskan, tugas I.League tidak berhenti pada mendatangkan sponsor, tetapi juga menjaga konsistensi kualitas kompetisi sehingga semakin banyak brand global tertarik berinvestasi di Liga Indonesia.

"Ini konsistensi ini yang tugas daripada LIB (I.League) menjaga agar supaya lebih banyak lagi brand internasional melihat kepada Liga Indonesia, Super League maupun Championship," tutupnya.

 


Tinggalkan Komentar