telusur.co.id - Oleh : Denny JA
Apa yang kita peroleh dari gagasannya?
Sabtu, 14 Maret 2026, Jürgen Habermas wafat pada usia 96 tahun. Kabar itu menutup satu bab penting dalam sejarah intelektual dunia.
Selama lebih dari tujuh dekade, filsuf Jerman ini berdiri sebagai salah satu penjaga paling tekun dari sebuah keyakinan yang kini terasa semakin langka: demokrasi hanya dapat hidup jika manusia masih sanggup berbicara secara rasional satu sama lain.
Habermas dikenal luas melalui teorinya tentang ruang publik, tindakan komunikatif, dan demokrasi deliberatif. Bagi dia, demokrasi bukan sekadar pemilu, bukan semata pergantian kekuasaan, dan bukan hanya prosedur hukum.
Demokrasi hidup ketika warga berdialog, bertukar argumen, dan membentuk opini publik secara terbuka. Tanpa percakapan rasional itu, demokrasi perlahan kehilangan jiwanya.
Lahir di Düsseldorf pada 1929, di bawah bayang-bayang kehancuran moral Eropa, Habermas menghabiskan hidupnya untuk memahami bagaimana masyarakat modern dapat tetap rasional, adil, dan demokratis setelah pengalaman paling gelap abad ke-20.
Ia terus menulis hingga usia lanjut, menanggapi krisis Eropa, perang, polarisasi politik, dan keretakan ruang publik di zaman kita.
Pandangan-pandangannya sering memicu perdebatan. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia percaya bahwa perbedaan tidak harus berakhir dalam permusuhan. Perbedaan dapat menjadi jalan menuju pemahaman.
Kini suaranya telah pergi. Namun gagasannya tetap hidup di setiap ruang di mana manusia masih mau duduk bersama, berbicara dengan jujur, dan mencari kebenaran bersama.
Pada suatu pagi yang tenang di Jerman Barat tahun 1950-an, seorang mahasiswa muda duduk di ruang baca universitas.
Di hadapannya terbentang laporan tentang masa lalu negerinya sendiri: propaganda, kebohongan publik, dan bagaimana sebuah masyarakat yang berpendidikan dapat terseret ke dalam tirani.
Mahasiswa itu bernama Jürgen Habermas.
Ia bukan saksi dewasa dari rezim Nazi. Ketika perang berakhir, ia masih sangat muda. Tetapi ia tumbuh dalam puing-puing sejarahnya.
Ia menyaksikan satu fakta yang mengguncang: sebuah bangsa yang melahirkan Goethe, Kant, dan Beethoven ternyata juga dapat melahirkan Auschwitz dan Hitler.
Dari luka sejarah itulah lahir kegelisahan intelektual Habermas. Baginya, tragedi Jerman bukan hanya kegagalan politik. Ia adalah kegagalan komunikasi publik. Kebohongan menjadi bahasa negara. Propaganda menggantikan dialog. Kekuasaan menenggelamkan rasionalitas.
Sejak itu, pertanyaan yang ia kejar sepanjang hidupnya menjadi sangat jelas: bagaimana masyarakat modern dapat membangun kembali rasionalitas bersama setelah kehancuran moral seperti itu?
Seorang Filsuf dari Generasi yang Terluka
Habermas lahir pada 1929, generasi yang sering disebut para sejarawan sebagai generasi setelah Auschwitz. Mereka mewarisi bukan kemenangan, melainkan rasa malu sejarah. Mereka dipaksa menatap jurang yang dibuka oleh bangsanya sendiri.
Bagaimana mungkin peradaban yang menghasilkan puncak sastra, musik, dan filsafat juga mampu menghasilkan pabrik kematian?
Habermas menjawab pertanyaan itu bukan dengan metafisika, melainkan dengan teori masyarakat. Ia melihat bahwa ketika ruang publik dihancurkan, ketika warga tidak lagi berbicara sebagai sesama manusia yang setara, maka kebudayaan setinggi apa pun dapat runtuh ke dalam barbarisme.
Di sinilah letak inti kegelisahannya. Yang ingin ia selamatkan bukan hanya demokrasi sebagai sistem politik, tetapi rasionalitas sebagai cara hidup bersama.
Sumbangan Terbesar: Menyelamatkan Rasionalitas dalam Demokrasi
Sumbangan terbesar Habermas dapat diringkas dalam satu gagasan besar: demokrasi hanya dapat bertahan jika masyarakat memiliki ruang komunikasi yang bebas dan rasional.
Ia menyebut ruang itu sebagai ruang publik.
Dalam buku pentingnya, The Structural Transformation of the Public Sphere (1962), Habermas menelusuri bagaimana pada abad ke-18 muncul ruang baru dalam masyarakat Eropa: kafe, salon sastra, surat kabar, dan forum diskusi.
Di tempat-tempat itu, warga berbicara bukan sebagai bangsawan dan rakyat jelata, tetapi sebagai individu yang saling menguji argumen.
Dari ruang seperti itulah lahir fondasi demokrasi modern.
Bagi Habermas, kekuasaan tidak boleh hanya turun dari atas. Ia harus diuji dalam opini publik yang dibentuk melalui percakapan rasional.
Ketika ruang publik sehat, demokrasi bernapas. Ketika ruang publik rusak oleh propaganda, manipulasi media, dan dominasi modal, demokrasi mulai kehilangan maknanya.
Dalam dunia hari ini, ketika kebisingan sering lebih cepat daripada kebenaran, gagasan itu terasa lebih mendesak daripada sebelumnya.
Teori Tindakan Komunikatif
Pada 1981, Habermas menerbitkan karya besar lainnya: The Theory of Communicative Action. Jika buku sebelumnya menjelaskan panggung demokrasi, buku ini menjelaskan jiwa yang seharusnya menghidupkannya.
Di sini Habermas membedakan dua cara manusia bertindak. Yang pertama adalah tindakan strategis, ketika seseorang berbicara untuk menang, mempengaruhi, atau menguasai.
Yang kedua adalah tindakan komunikatif, ketika seseorang berbicara untuk mencapai pemahaman bersama.
Bagi Habermas, harapan terbesar demokrasi terletak pada tindakan komunikatif ini.
Masyarakat modern memang dipenuhi pasar, birokrasi, dan sistem yang bekerja secara instrumental. Namun manusia tidak hidup hanya dengan kalkulasi. Mereka juga hidup dengan makna, nilai, solidaritas, dan pengakuan.
Bila seluruh hidup bersama dikuasai oleh logika pasar dan kekuasaan, maka dunia kehidupan manusia akan terkolonisasi.
Karena itu Habermas menegaskan pentingnya komunikasi yang jujur dan terbuka. Konflik tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Ia dapat diolah melalui argumentasi. Itulah inti dari peradaban demokratis.
Demokrasi Deliberatif
Dari sini lahir gagasan lain yang sangat berpengaruh: demokrasi deliberatif.
Dalam pandangan Habermas, keputusan politik yang sah tidak cukup hanya karena didukung mayoritas. Ia harus lahir dari proses pertimbangan publik yang rasional, di mana warga saling mendengar, saling menguji alasan, dan bersedia mengubah posisi bila argumen yang lebih baik muncul.
Demokrasi yang sehat bukan hanya demokrasi yang menghitung suara. Ia adalah demokrasi yang menimbang suara.
Itulah sebabnya Habermas tetap relevan di zaman media sosial. Ia mengingatkan kita bahwa kebebasan berbicara saja belum cukup. Yang lebih penting adalah kualitas pembicaraan itu sendiri. Sebab kebebasan tanpa rasionalitas mudah berubah menjadi pasar teriakan.
Filsafat yang Memilih Dunia Nyata
Harus diakui, Habermas bergerak di wilayah yang berbeda dari para filsuf metafisik klasik. Ia tidak menjadikan Tuhan, jiwa, atau asal-usul kosmos sebagai pusat refleksinya.
Ia lebih tertarik pada struktur komunikasi masyarakat modern, pada legitimasi hukum, pada syarat-syarat kemungkinan hidup bersama yang rasional.
Bagi sebagian orang, ini terasa kurang menjangkau pertanyaan terdalam filsafat. Namun justru di situlah keberanian Habermas. Ia menerima bahwa dunia modern telah kehilangan banyak kepastian metafisik lama.
Lalu ia bertanya: bila manusia tak lagi berbagi keyakinan absolut yang sama, masih mungkinkah mereka hidup bersama secara rasional?
Seluruh proyek intelektualnya dapat dibaca sebagai jawaban atas pertanyaan itu.
Ia tidak mencari surga metafisika. Ia mencoba menyelamatkan kemungkinan etika di tengah dunia yang retak.
Habermas juga berdialog keras dengan para pemikir postmodern seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Ia khawatir, bila rasionalitas ditinggalkan sepenuhnya, kritik terhadap kekuasaan justru kehilangan dasar moralnya.
Perbedaan mereka sebenarnya cukup sederhana. Habermas percaya manusia masih bisa mencapai kesepahaman melalui percakapan yang jujur dan rasional. Jika orang saling mendengar dan menimbang argumen, masyarakat dapat menemukan keputusan yang adil.
Sebaliknya, Foucault melihat bahwa banyak “kebenaran” sering lahir dari hubungan kekuasaan, siapa yang kuat, dialah yang menentukan apa yang dianggap benar.
Derrida menambahkan bahwa bahasa sendiri sering tidak stabil; makna kata bisa berubah dan ditafsirkan berbeda-beda.
Singkatnya, Habermas masih percaya pada kemungkinan rasionalitas bersama, sementara para pemikir postmodern lebih curiga bahwa klaim kebenaran sering tersembunyi di balik kekuasaan dan permainan bahasa.
Habermas dikritik karena dianggap terlalu mengidealkan “ruang publik” yang sebenarnya didominasi kelas menengah-atas, laki-laki, dan kelompok mayoritas, sehingga suara yang lemah sering tak terdengar.
Ia menjawab dengan menekankan pentingnya aturan dialog yang adil, transparan, dan setara, agar ketimpangan kekuasaan bisa dibongkar dan dikoreksi bersama.
Kini, algoritma dan gema digital seringkali memenjarakan kita dalam fanatisme. Habermas mengingatkan bahwa keberanian untuk mendengar pandangan berbeda adalah satu-satunya benteng terakhir yang menjaga nalar publik agar tidak runtuh menjadi anarki.
Warisan Habermas
Ketika kita memandang dunia hari ini, kita semakin memahami mengapa Habermas penting. Media sosial dipenuhi propaganda. Polarisasi politik semakin tajam.
Debat publik kerap berubah menjadi penghinaan. Kebohongan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Emosi lebih mudah menguasai ruang bersama daripada argumentasi.
Di tengah keadaan seperti itu, Habermas datang seperti suara yang mengingatkan: demokrasi tidak mati hanya ketika pemilu dihentikan. Demokrasi mati ketika percakapan publik berhenti menjadi rasional.
Ia mengingatkan bahwa manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Mereka dapat berbicara, mendengar, dan memahami satu sama lain. Bukan melalui kekerasan. Bukan melalui propaganda. Tetapi melalui percakapan yang jujur.
Warisan Habermas bukanlah janji bahwa manusia selalu akan rasional. Warisannya adalah keyakinan bahwa manusia masih mungkin menjadi rasional, dan bahwa kemungkinan itu layak diperjuangkan.
Sebuah Keheningan yang Mengingatkan
Kini dunia kehilangan salah satu penjaga paling tekun dari keyakinan itu.
Seorang filsuf yang sepanjang hidupnya percaya bahwa masa depan demokrasi tidak terutama ditentukan oleh kekuatan militer, teknologi, atau kekayaan ekonomi.
Pada akhirnya, ia ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih rapuh namun lebih manusiawi: kemampuan kita untuk berbicara satu sama lain sebagai sesama manusia.
Di zaman yang semakin bising ini, pesan itu justru terdengar semakin sunyi.
Namun seperti gema dari ruang publik yang ia bayangkan, gagasan Habermas tetap hidup di setiap tempat di mana orang masih mau duduk bersama, menahan amarahnya, menimbang argumennya, dan mencari kebenaran bersama.
Melalui karyanya tentang hukum dan demokrasi, Habermas menekankan hal sederhana: aturan hanya pantas ditaati bila lahir dari proses yang adil, terbuka, dan memberi ruang suara bagi semua warga.
Selama percakapan seperti itu masih ada, Jürgen Habermas belum benar-benar pergi.
*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, Ketua Umum SATUPENA, Penulis Buku, dan Komisaris Utama PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).



