Industri Pengolahan Nasional Tetap Tangguh, IKI April 2026 Masih di Zona Ekspansi - Telusur

Industri Pengolahan Nasional Tetap Tangguh, IKI April 2026 Masih di Zona Ekspansi

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Arief. sumber foto: dok Kemenperin

telusur.co.id - Kinerja industri pengolahan nasional pada April 2026 menunjukkan ketahanan yang solid di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April tercatat 51,75, masih berada dalam zona ekspansi meski mengalami perlambatan tipis 0,11 poin dibanding bulan sebelumnya.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Arief, mengatakan dampak krisis energi akibat gejolak geopolitik global memengaruhi beberapa subsektor, seperti kimia, tekstil, dan industri hilir lainnya. Namun, secara umum seluruh variabel IKI pesanan (51,43), produksi (51,34), dan persediaan (53,13) masih dalam fase ekspansi.

“Perlambatan ini masih wajar, merupakan fase penyesuaian industri. Persediaan meningkat karena pelaku industri menyesuaikan stok menghadapi kondisi pasar,” ujar Febri  dalam IKI April 2026 di Jakarta, Rabu (29/4)..

Optimisme pelaku usaha terhadap enam bulan ke depan tetap tinggi, tercatat 70,1%, meski turun tipis 1,7% dibanding bulan sebelumnya. Dari sisi pasar, IKI ekspor tercatat 52,28, sedikit melambat, sementara IKI domestik meningkat menjadi 50,90, menunjukkan pasar dalam negeri mulai menjadi penopang utama di tengah melemahnya permintaan luar negeri.

Beberapa subsektor menunjukkan pertumbuhan positif, antara lain industri pengolahan tembakau, pakaian jadi, kertas, farmasi, barang logam, mesin, komputer, elektronik, dan peralatan listrik. Sebaliknya, subsektor yang mengalami kontraksi termasuk minuman, tekstil, kayu, bahan kimia, dan alat angkutan. Kendala industri tekstil muncul karena masalah pasokan bahan baku petrokimia, sementara industri pakaian justru mencatat pertumbuhan.

Febri menegaskan, dari 23 subsektor yang dianalisis, 16 subsektor mengalami ekspansi, berkontribusi 78,9% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Dua subsektor dengan kinerja tertinggi adalah pengolahan tembakau serta kertas dan barang dari kertas.

Ia juga menjelaskan perubahan konsep, definisi, dan metodologi perhitungan PDB Industri Pengolahan sejak 2009, sehingga tidak tepat membandingkan data sebelum dan sesudah perubahan tersebut. Namun, tren positif tetap terlihat pada periode terkini, didorong pemulihan pascapandemi, kebijakan hilirisasi, dan konsumsi domestik yang kuat.

“Manufaktur Indonesia tidak mengalami deindustrialisasi dini. Tren positif ini terjadi di masa kepemimpinan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita,” tegas Febri.


Tinggalkan Komentar