telusur.co.id - Pemerintah terus memperkuat daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional di tengah tekanan global yang kian kompleks. Melalui ajang Indo Intertex – Inatex 2026, Indonesia menunjukkan optimisme bahwa sektor ini tetap menjadi tulang punggung ekonomi sekaligus peluang masa depan.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih solid. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11%, sementara sektor industri pengolahan justru melampaui dengan capaian 5,30%—sebuah pencapaian yang baru terjadi dalam 14 tahun terakhir.
Kontribusi sektor ini pun tak main-main. Industri pengolahan menyumbang 19,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan mendominasi ekspor nasional hingga 84,89%. Selain itu, sektor ini juga menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, menegaskan perannya sebagai pilar utama ekonomi Indonesia.
Khusus industri TPT, kinerja tetap menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, sektor ini tumbuh 3,55% dengan nilai ekspor mencapai USD12,08 miliar dan mencatatkan surplus USD3,45 miliar didorong terutama oleh ekspor pakaian jadi.
Dari sisi investasi, industri TPT berhasil menarik dana sebesar Rp20,23 triliun serta menyerap hampir 4 juta tenaga kerja. Hal ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, tantangan tetap membayangi. Kenaikan harga bahan baku, gangguan rantai pasok, hingga fluktuasi permintaan pasar global menjadi faktor yang harus diantisipasi bersama. Pemerintah pun menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku industri, asosiasi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam konteks tersebut, Indo Intertex – Inatex 2026 hadir sebagai lebih dari sekadar pameran. Ajang ini menjadi platform strategis untuk business matching, membuka peluang kemitraan global, sekaligus mempercepat adopsi teknologi di sektor tekstil.
“Pameran ini bukan hanya menampilkan inovasi, tetapi juga membangun optimisme bahwa industri TPT masih menjadi sektor sunrise,” ujar Agus.
Ke depan, pemerintah berkomitmen memperkuat fondasi industri melalui berbagai kebijakan strategis, mulai dari perluasan akses pasar, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, hingga percepatan transformasi industri berbasis teknologi 4.0 dan prinsip keberlanjutan.
Di tengah dinamika geopolitik global, pergeseran rantai pasok justru membuka peluang baru bagi Indonesia untuk menarik relokasi investasi dan memperluas peran dalam rantai pasok dunia terutama untuk produk tekstil berkelanjutan.
Menperin yang juga politisi partai Golkar itu juga menegaskan pentingnya menjaga optimisme. Menurutnya, pelaku industri yang mampu bertahan di masa sulit akan menjadi yang paling siap melesat saat kondisi global kembali stabil.



