telusur.co.id - Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, memperingatkan bahwa setiap serangan baru yang dilakukan Amerika Serikat terhadap infrastruktur Iran akan memicu respons militer yang jauh lebih keras dan bersifat menghancurkan.
Dalam pernyataannya, Shekarchi menegaskan bahwa militer Iran berada dalam kondisi siap tempur penuh dan tidak akan ragu memberikan balasan terhadap setiap aksi yang dianggap sebagai agresi terhadap Republik Islam.
"Kami sepenuhnya siap untuk berperang dan akan memberikan respons yang sangat menghancurkan terhadap setiap serangan dan petualangan baru yang menargetkan Iran," tegas Shekarchi.
Ia juga melontarkan peringatan bahwa apabila infrastruktur Iran menjadi sasaran serangan, maka Teheran akan membalas dengan menargetkan berbagai infrastruktur strategis di kawasan.
"Jika infrastruktur kami diserang, maka seluruh infrastruktur di kawasan ini akan menjadi target kami," ujarnya.
Menurut Shekarchi, jika Amerika Serikat dan sekutunya memiliki kemampuan untuk menghancurkan Iran, mereka tidak akan menunda tindakan tersebut. Karena itu, Iran memilih untuk selalu berada dalam kondisi siap menghadapi segala kemungkinan.
Selain menyoroti ancaman militer, Shekarchi kembali mengkritik kehadiran Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah. Ia menyebut kedua pihak tidak memiliki legitimasi untuk berada di kawasan tersebut dan menuding mereka selama bertahun-tahun telah mengeksploitasi negara-negara regional serta menjadi sumber instabilitas.
"Amerika Serikat dan rezim Zionis tidak memiliki hak untuk berada di kawasan ini. Selama bertahun-tahun mereka telah menjarah negara-negara di kawasan dan menjadi sumber ketidakamanan," katanya.
Shekarchi juga menegaskan posisi Iran terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Menurutnya, kedaulatan Iran atas selat tersebut justru menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan.
Ia kembali mendesak Amerika Serikat menarik seluruh kekuatan militernya dari Timur Tengah serta menegaskan bahwa Iran tidak akan mengubah sikapnya mengenai Selat Hormuz.
"Kedaulatan Republik Islam atas Selat Hormuz merupakan sumber keamanan bagi kawasan, bukan ancaman. Kami menegaskan Amerika Serikat harus meninggalkan kawasan ini, dan kami tidak akan pernah mundur terkait Selat Hormuz," tegas Shekarchi.
Pernyataan tersebut menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya saling ancam antara Iran dan Amerika Serikat, terutama terkait kehadiran militer AS dan keamanan jalur pelayaran strategis di Teluk Persia.



