telusur.co.id - Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat telah melanggar kerangka perjanjian Islamabad yang sebelumnya disepakati kedua negara. Teheran menegaskan akan mengambil langkah tegas untuk melindungi kepentingan nasional dan kedaulatannya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyampaikan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan AS sejak awal tidak dibangun atas dasar kepercayaan, melainkan melalui mekanisme saling memenuhi komitmen atau commitment-for-commitment.
“Sejak langkah pertama, nota kesepahaman antara Iran dan AS disusun bukan atas dasar kepercayaan, melainkan berdasarkan mekanisme ‘komitmen-untuk-komitmen’ yang jelas. Hal ini karena tidak ada tanda-tanda niat baik dalam perilaku pihak lain,” ujar Baqaei melalui unggahan di platform media sosial X, Rabu.
Baqaei menyebut Amerika Serikat telah melanggar Klausul 5 dalam nota kesepahaman tersebut. Klausul itu, menurutnya, berkaitan dengan tanggung jawab Iran dalam memastikan jalur aman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Ia menilai tindakan sepihak dan operasi militer yang dilakukan Washington terhadap Iran merupakan pelanggaran terhadap kerangka kesepakatan yang telah dibuat. “Republik Islam Iran akan dengan tegas mengupayakan perlindungan kepentingan nasionalnya dan pelaksanaan kedaulatannya,” tegas Baqaei.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Iran menuduh militer Amerika Serikat melakukan serangkaian serangan terhadap wilayah pesisir negaranya. Teheran menyebut serangan itu menyasar sejumlah pangkalan pesisir dan lokasi sipil di Provinsi Hormozgan serta Kota Mahshahr.
Pemerintah Iran mengecam tindakan tersebut sebagai serangan yang tidak memiliki dasar hukum dan dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Hingga kini, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih menjadi perhatian internasional, terutama terkait keamanan kawasan Teluk, jalur perdagangan energi global, serta stabilitas di kawasan Timur Tengah.



