telusur.co.id - Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan telah membubarkan sejumlah kelompok yang mereka sebut sebagai jaringan anti-revolusi di wilayah barat Iran, dalam operasi yang diklaim melibatkan provinsi Kurdistan dan Kermanshah.
Dilansir kantor berita Tasnim Sabtu (25/4/2026), Organisasi Intelijen IRGC mengungkapkan bahwa kelompok-kelompok tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan pihak asing, termasuk Amerika Serikat dan Israel, serta disebut tengah mempersiapkan aksi yang dapat mengancam keamanan negara.
Dalam operasi di Provinsi Kurdistan, IRGC menyatakan telah membongkar beberapa sel kelompok separatis Kurdi. Sebanyak 11 orang ditangkap, satu orang tewas, serta sejumlah persenjataan seperti peluncur RPG dan ribuan amunisi disita. Otoritas juga mengklaim menangkap puluhan orang lain yang diduga terlibat aktivitas serupa di wilayah tersebut.
Sementara itu, di Provinsi Kermanshah, IRGC melaporkan penangkapan 155 orang yang diduga terkait kelompok anti-revolusioner. Dari jumlah tersebut, sebagian besar dituduh terlibat perdagangan senjata ilegal, dengan berbagai senjata api dan amunisi turut diamankan.
Dalam laporan yang sama, IRGC juga menyebut adanya penangkapan beberapa individu yang diklaim sebagai mata-mata yang terkait dengan dinas intelijen Israel, Mossad. Mereka dituduh menerima imbalan untuk kegiatan pengumpulan dan penyelundupan senjata.
Selain itu, kelompok lain yang disebut sebagai elemen separatis juga diklaim telah ditangkap karena terlibat dalam pembuatan bahan peledak rakitan dan rencana penyerangan terhadap fasilitas pemerintah dan militer.
Hingga kini, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sementara ketegangan keamanan di wilayah perbatasan barat Iran dilaporkan masih menjadi perhatian utama pemerintah setempat.



