telusur.co.id - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjangkau wilayah kepulauan yang selama ini minim akses layanan kesehatan. BPJS Kesehatan mendukung operasional Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) yang mulai berlayar pada kegiatan Bakti RSKKA 2026 untuk memberikan pelayanan kesehatan di Pulau Bluto, Raas, Karamian, dan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, selama 12-25 Juli 2026.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP(K), FIHA, M.M.R.S. menjelaskan, dukungan tersebut diwujudkan melalui kerja sama pembiayaan pelayanan kesehatan bagi peserta JKN. Dengan skema tersebut, pelayanan kesehatan yang diberikan RSTKA di daerah yang belum memiliki fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat dapat diklaim kepada BPJS Kesehatan.
“Apabila kapal ini berlayar ke daerah tersebut dan memberikan pelayanan kesehatan, maka dapat bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sehingga pembiayaannya bisa diklaim ke BPJS Kesehatan," tutur dokter spesialis jantung ini. Seperti yang dilansir jatim.pikiran-rakyat.com, Minggu (12/7/2026) siang.
Menurut Prihati, pemerataan layanan kesehatan masih menjadi tantangan nasional. Pada 2025 terdapat sekitar 500 titik berstatus Daerah Belum Tersedia Fasilitas Kesehatan yang Memenuhi Syarat (DBTFMS), sedangkan pada 2026 jumlahnya meningkat menjadi 600 titik. Empat pulau yang menjadi tujuan pelayaran RSTKA termasuk dalam kategori tersebut sehingga membutuhkan dukungan pelayanan kesehatan bergerak.
Semoga pelayanan dan pembiayaan kesehatan dapat semakin merata diterima warga peserta JKN yang berada di pulau-pulau terluar. Program ini juga menjadi salah satu quick win direksi baru melalui JKN 3T, yakni Jaminan Kesehatan Nasional di daerah terluar, terpencil, dan tertinggal," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga, dr. Agus Harianto, menjelaskan tim medis membawa sejumlah dokter spesialis sesuai kebutuhan masyarakat kepulauan, meliputi spesialis bedah, penyakit dalam, anak, mata, gigi, dan kandungan. RSTKA juga dilengkapi kamar operasi sehingga tindakan pembedahan dapat dilakukan apabila ditemukan pasien yang membutuhkan penanganan segera.
“Sesuai permintaan masyarakat di kepulauan, kali ini kami membawa dokter spesialis bedah, penyakit dalam, pediatri atau anak, mata, gigi, dan dokter kandungan. Tidak menutup kemungkinan apabila ada kasus yang membutuhkan operasi, tindakan dapat dilakukan di kamar operasi yang tersedia di kapal," tutur Agus.
RSTKA telah beroperasi melayani masyarakat kepulauan sejak 2017. Selama hampir satu dekade berlayar, rumah sakit terapung ini telah memberikan berbagai layanan kesehatan spesialistik, termasuk membantu sekitar 100 persalinan melalui operasi sesar.
Melalui Bakti RSKKA 2026 bertema "Bersama Membangun Generasi Sehat", pelayaran kembali diharapkan memperkuat akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau fasilitas kesehatan darat sekaligus mendukung pemerataan layanan JKN di kawasan 3T. (ari)



