Kasus Toko Mama Khas Banjar Jadi Pelajaran Penting Bagi Kolaborasi Kebijakan UMKM - Telusur

Kasus Toko Mama Khas Banjar Jadi Pelajaran Penting Bagi Kolaborasi Kebijakan UMKM

Ilustrasi pelaku UMKM. Foto: Istimewa

telusur.co.id - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan bahwa penguatan sektor UMKM sebagai fondasi ekonomi masa depan memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum. Dengan pendekatan terpadu, kebijakan yang dihasilkan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga melindungi dan memberdayakan pengusaha UMKM secara berkelanjutan, seperti kasus yang dialami Toko Mama Khas Banjar pada akhir 2024

“Kasus Mama Khas Banjar menunjukkan adanya perhatian seluruh pemangku kepentingan terhadap UMKM di Banjarbaru. Namun, ketika orkestrasi antarinstansi belum berjalan selaras, hal ini dapat berpotensi menyebabkan ketidaktepatan dalam penempatan kebijakan,” kata Menteri UMKM Maman Abdurrahman di hadapan ratusan warga dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dikutip Selasa (21/4/2026).

Menurut Maman, kasus Mama Khas Banjar menjadi cerminan bahwa perhatian para pemangku kepentingan terhadap UMKM sudah tinggi. Namun, tanpa orkestrasi kebijakan yang selaras antarinstansi, niat baik tersebut berpotensi menimbulkan kesalahan dalam implementasi kebijakan.

Dalam kasus tersebut, pemilik Toko Mama Khas Banjar, Firly Nurachim, sempat menghadapi tuntutan terkait dugaan pelanggaran label kedaluwarsa produk. Dalam prosesnya, perkara tersebut diputuskan sebagai pelanggaran administratif, bukan tindak pidana. Setelah melalui proses hukum, toko oleh-oleh tersebut kembali beroperasi pada Juni 2025.

 Maman menekankan bahwa kebijakan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum tidak dapat berjalan secara terpisah. Sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menghadirkan pelayanan publik yang adil, proporsional, dan berpihak pada penguatan ekonomi rakyat.

Ia menambahkan, ketika kolaborasi dibangun dengan baik, pengalaman seperti yang dialami Mama Khas Banjar dapat menjadi simbol kehadiran negara yang tidak hanya mengatur, tetapi juga melindungi dan mendorong kemajuan pengusaha UMKM.

“Dengan kolaborasi yang baik, peristiwa Mama Khas Banjar dapat menjadi simbol bahwa ketika UMKM dikelola dengan pendekatan yang tepat, disertai keseriusan seluruh pemangku kepentingan, maka kemajuan UMKM akan semakin kuat,” katanya.

Selain itu, Kementerian UMKM juga terus mendorong terciptanya keseimbangan ekonomi melalui pengurangan kesenjangan antara pengusaha UMKM dan usaha besar. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan keadilan ekonomi dan sosial di seluruh Indonesia Maman menjelaskan bahwa pemerintah telah menyalurkan berbagai skema pembiayaan bagi UMKM melalui bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) maupun perbankan swasta. Namun demikian, efektivitas pembiayaan tersebut dinilai belum optimal apabila pasar domestik masih dibanjiri oleh produk impor ilegal yang melemahkan daya saing UMKM lokal.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh kepala daerah, dinas terkait, aparat penegak hukum, serta sektor perbankan untuk bersama-sama menjaga pasar dalam negeri dari peredaran barang ilegal. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan ruang tumbuh yang sehat bagi pengusaha UMKM di dalam negeri.

“Daerah yang maju akan menjadi etalase bagi UMKM untuk tumbuh dan berkembang, serta menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya.[Nug] 


Tinggalkan Komentar