telusur.co.id - Paolo Maldini resmi memulai era baru sepak bola Italia setelah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menunjuknya sebagai Direktur Teknik Timnas Italia. Legenda AC Milan itu dipercaya menjadi bagian penting dalam proyek jangka panjang Azzurri hingga Piala Dunia 2030.

Kehadiran Maldini dianggap sebagai langkah strategis FIGC untuk membangun kembali kejayaan sepak bola Italia. Tugasnya tidak hanya berkaitan dengan pemilihan pelatih kepala baru, tetapi juga menyusun sistem pembinaan, pengembangan pemain muda, hingga menciptakan fondasi kuat bagi tim nasional di masa depan.

Dengan pengalaman puluhan tahun sebagai pemain kelas dunia serta pernah menjabat sebagai petinggi klub, Maldini dinilai memiliki kemampuan dan wawasan yang dibutuhkan untuk membawa Italia kembali bersaing di panggung internasional.

Pandangan tersebut juga disampaikan mantan bek Timnas Italia, Alessandro Costacurta. Ia menilai keputusan FIGC memilih Maldini memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding hanya mencari sosok pelatih baru.

“Ini adalah berita bagus untuk sepak bola Italia, karena kami telah mendatangkan salah satu orang yang paling berwawasan dan tulus dalam olahraga ini,” ujar Costacurta kepada Sky Sport Italia.

Menurut Costacurta, Maldini memiliki kombinasi langka antara pengalaman, karakter, dan pemahaman mendalam mengenai sepak bola modern.

“Malagò membuat pilihan terbaik. Bahkan, memilih Maldini mungkin lebih penting daripada memilih pelatih baru,” tegasnya.

Duet Maldini dan Leonardo Jadi Harapan Baru Italia

Selain menunjuk Maldini, FIGC juga memperkuat jajaran teknis dengan merekrut Leonardo Araújo sebagai konsultan teknis. Kolaborasi dua mantan sosok penting AC Milan itu diharapkan mampu membawa perubahan besar dalam struktur sepak bola Italia.

Costacurta melihat duet Maldini dan Leonardo sebagai kombinasi yang menarik karena memiliki karakter berbeda, namun dapat saling melengkapi.

Menurutnya, Leonardo merupakan sosok visioner dengan banyak ide besar, sementara Maldini lebih dikenal sebagai figur praktis yang mengandalkan pengalaman, pengetahuan, dan insting sepak bola.

“Mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Leo lebih seperti seorang pemimpi, seorang visioner, sedangkan Paolo lebih praktis, mengandalkan pengetahuan dan instingnya,” kata Costacurta.

“Hal terbaik tentang mereka adalah mereka saling mendengarkan. Meski berawal dari ide yang berbeda, mereka selalu berhasil menemukan solusi bersama,” tambahnya.

Dengan kombinasi Maldini dan Leonardo, Italia berharap dapat membangun kembali identitas sepak bola nasional sekaligus mengakhiri periode sulit setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022. Proyek menuju Piala Dunia 2030 kini dimulai dengan dua legenda Milan sebagai motor penggerak perubahan.