Legislator PKB Minta Bulog Optimalkan Penyerapan Gabah Petani dengan Harga yang Ideal - Telusur

Legislator PKB Minta Bulog Optimalkan Penyerapan Gabah Petani dengan Harga yang Ideal

Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan (ist)

telusur.co.idAnggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk mengoptimalkan penyerapan gabah petani dengan diiringi harga yang ideal.

Pasalnya, kata Nasim, saat ini, harga gabah yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional masih belum sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan para petani, mulai dari biaya sarana dan prasarana produksi, pupuk, herbisida dan ongkos tenaga kerja.

Diungkapkan Nasim, rendahnya harga pembelian pemerintah (HPP) gabah yang jauh di bawah rata-rata harga pasar menjadi kendala Bulog dalam penyerapan produksi.

"HPP gabah kita tolong dikroscek lagi pak, sehingga petani bisa bergairah untuk menjual ke pemerintah," kata Nasim Khan saat RDP antara Komisi VI DPR RI dengan Dirut PT RNI (Persero)/ ID Food, Dirut Perum Bulog dan Dirut PT Perkebunan Nusantara III (Persero) di Senayan, Jakarta, Selasa (11/4/2023).

"Kedepan kita berharap agar petani, khususnya di Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi Jatim ini bisa lebih diberdayakan. Sehingga gairah untuk bertani jadi semakin besar," sambung dia.

Dalam kesempatan ini, Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PKB di Komisi VI DPR RI ini juga menyinggung persoalan impor beras 2 Juta Ton. 

Menurut wakil rakyat dari Fraksi PKB ini, petani merupakan profesi yang mulia, karena bisa menolong banyak orang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain itu, Petani juga tidak pernah takut bekerja berpanas-panasan dan hujan-hujanan. "(Namun) kalau denger (isu) impor, mereka langsung shock pak," kata Nasim.

Selain persoalan itu, Nasim juga menyoroti permasalahan pupuk bersubsidi yang kerap membuat petani kelimpungan saat musim tanam.

Beberapa persoalan itu yakni, kelangkaan pasokan saat musim tanam, sulitnya petani dalam mengakses pupuk, penyaluran yang kurang tepat sasaran, mahalnya harga dan lain sebagainya. "Selama ini pupuknya sulit, harganya mahal, mau beli aja susah," kata Nasim.


Tinggalkan Komentar