Telusur.co.id -Oleh: Jasmine Annisa Rizky Dalimunthe, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Medan Area.
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi. Setiap daerah memiliki adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas masyarakatnya. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, banyak tradisi mulai ditinggalkan karena dianggap tidak lagi sesuai dengan kehidupan saat ini. Padahal, di balik setiap tradisi terdapat nilai-nilai kehidupan yang masih relevan untuk diterapkan. Salah satu tradisi yang tetap bertahan di tengah masyarakat Batak Angkola-Mandailing adalah Mangupa.
Mangupa merupakan ritual adat yang dilaksanakan sebagai bentuk doa, restu, dan harapan kepada seseorang yang akan atau sedang menjalani fase penting dalam hidupnya. Tradisi ini biasanya dilakukan pada momen-momen seperti pernikahan, keberangkatan merantau, memasuki rumah baru, hingga setelah seseorang selamat dari musibah. Dalam ilmu antropologi, ritual seperti Mangupa termasuk ke dalam rites of passage, yaitu upacara yang menandai perpindahan seseorang dari satu tahap kehidupan menuju tahap berikutnya. Pelaksanaan Mangupa tidak hanya menjadi sebuah prosesi adat, tetapi juga menjadi wadah berkumpulnya keluarga besar. Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, para orang tua, tokoh adat, dan kerabat memberikan doa serta nasihat kepada orang yang diupa. Berbagai hidangan adat disajikan sebagai simbol harapan akan keselamatan, kesehatan, rezeki, dan kehidupan yang penuh keberkahan. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Batak Angkola-Mandailing memandang setiap perubahan dalam kehidupan sebagai perjalanan yang perlu disertai doa dan dukungan keluarga.
Keberadaan Mangupa hingga saat ini masih dapat dijumpai di berbagai daerah seperti Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan Mandailing Natal. Meskipun demikian, pelaksanaannya mulai mengalami perubahan. Tidak sedikit keluarga yang menyederhanakan rangkaian acara karena keterbatasan biaya, waktu, maupun perubahan gaya hidup masyarakat. Bahkan, sebagian generasi muda hanya mengenal Mangupa sebagai acara adat tanpa memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.
Fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian budaya. Jika makna sebuahtradisi tidak lagi dipahami, dikhawatirkan ritual tersebut hanya akan dijalankan sebagai formalitas. Padahal, inti dari Mangupa bukanlah kemewahan acara ataupun banyaknya hidangan yang disajikan, melainkan doa, nasihat, rasa syukur, serta ikatan kekeluargaan yang terjalin di dalamnya. Nilai-nilai seperti saling menghormati, gotong royong, dan kepedulian antarkeluarga justru menjadi kekuatan utama yang diwariskan melalui tradisi ini.
Di sisi lain, perkembangan teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan Mangupa kepada masyarakat yang lebih luas. Media sosial, video dokumenter, hingga konten edukasi dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah, filosofi, dan makna ritual ini kepada generasi muda. Dengan cara tersebut, budaya tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari identitas yang patut dijaga.
Mangupa bukan sekadar tradisi yang diwariskan oleh leluhur, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap langkah penting dalam kehidupan sebaiknya diawali dengan doa dan restu keluarga. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai kebersamaan seperti ini justru semakin dibutuhkan agar hubungan antaranggota keluarga tetap terjaga. Oleh karena itu, pelestarian Mangupa tidak cukup hanya dengan melaksanakan prosesi adat, tetapi juga dengan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Melihat kondisi saat ini, Mangupa masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat Batak Angkola-Mandailing. Tradisi ini membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus menghilangkan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Sebaliknya, budaya dapat berkembang mengikuti perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi dasar keberadaannya.
Pada akhirnya, Mangupa bukan sekadar ritual adat, melainkan cerminan nilai kebersamaan, penghormatan kepada orang tua, doa, dan harapan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Batak Angkola-Mandailing selama bertahun-tahun. Selama nilai-nilai tersebut tetap dijaga dan diwariskan, Mangupa akan terus hidup sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang layak dipertahankan di tengah perubahan zaman.



