telusur.co.id - Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Sofian Effendi menilai, diamandemennya Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sampai empat kali, merupakan salah satu penyebab negara Indonesia untuk mewujudkan demokrasi dan ekonomi Pancasila, seperti yang diinginkan para pendiri bangsa.
"Sekarang sangat nuskil untuk dicapai. Karena, Undang-Undang Dasar kita tidak lagi mempunyai semangat itu. Pasal-pasalnya tidak lagi sesuai, semangatnya sudah invidualisme liberalisme," kata Prof Soffian dalam Peluncuran Buku "Sistem Demokrasi Pancasila" di Kampus Pascasarjana Universitas Nasional, Jalan Harsono, Rangunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/20).
Prof Sofian mengaku kagum dengan para para pendiri yang sebelum 40 tahun semuanya sudah memikirkan sistem apa yang cocok untuk bangsa Indonesia, tentu dengan perdebatan intelektual.
Menurut Prof Sofian, jika diajarkan dengan benar teori politik, adminsitasi, sosial, ekonomi, yang bersemangat masyarakat majemuk keadilan sosial seperti yang dirumuskan oleh para faoundhing father mother bangsa, tentu kondisi negara tidak seperti saat ini.
"Kemudian tahun 1999-2002n mengobrak-abrik UUD kita. Saya kira cita-cita saya tidak tercapai sampai selesai jadi rektor (UGM) sampai sekarang bahkan kita melihat2 buku yg disemangat 7 teman-teman, demokrasi Pancasila sulit untuk dilaksanakan sekarang," tukasnya.
Hadir sebaga pengulas peluncuran buku itu, selain Prof. Sofian Effendi, ada juga Prof. Maria Farida Indrarti, Prof Ahmad Erani Yustika, Dr. Yudi Latif, Dr. M Alfan Alfian.[Fhr]
Laporan: Tio Pirnando



