telusur.co.id -Generasi Z kerap dikaitkan dengan berbagai kebiasaan dan pendekatan hidup yang dinilai unik. Mulai dari cara berkomunikasi, memaknai relasi, hingga mengelola emosi, generasi ini tidak henti menjadi topik perbincangan. Salah satu fenomena yang belakangan cukup populer adalah penggunaan kartu tarot sebagai sarana mencari ketenangan emosional dan kejelasan arah hidup.
Di tengah tekanan akademik, sosial, hingga ketidakpastian masa depan, Generasi Z kerap dihadapkan pada situasi yang memicu stres dan kecemasan. Dalam kondisi tersebut, sebagian dari mereka memilih tarot sebagai salah satu perspektif untuk mengurai kegelisahan, baik terhadap hal yang telah terjadi maupun yang belum pasti terjadi.
Menanggapi fenomena tersebut, Psikolog Klinis Universitas Airlangga (UNAIR) Dian Kartika Amelia Arbi, M.Psi., menjelaskan bahwa tarot sejatinya bukanlah praktik baru. Tarot telah dikenal sejak generasi sebelumnya, namun kini kembali populer di kalangan Generasi Z.
“Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z, ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” jelasnya.
Menurut Dian, pembacaan tarot dapat memunculkan gambaran atau khayalan yang membantu individu merasa seolah mampu memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Narasi yang ditawarkan tarot sering kali memberi rasa kejelasan dan kontrol, sehingga kecemasan dapat berkurang.
“Misalnya karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka prediksi, mereka mengalami kecemasan. Sehingga tarot ini menawarkan sesuatu atau narasi-narasi tentang diri mereka tanpa judgement atau apa pun yang bisa dianggap menenangkan,” imbuhnya.
Dalam konteks ini, tarot dapat berfungsi sebagai salah satu bentuk coping mechanism atau mekanisme koping sementara bagi individu yang sedang mengalami tekanan emosional.
Meski demikian, Dian mengingatkan bahwa penggunaan tarot perlu disikapi secara bijak. Ia menilai tarot tidak selalu berdampak negatif, selama digunakan sebagai pemicu refleksi diri dan evaluasi pribadi.
“Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” tuturnya.
Ketergantungan berlebihan pada tarot, lanjut Dian, berpotensi membuat individu pasrah dan enggan berupaya memperbaiki situasi hidupnya. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy.
“Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi, tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada perilaku yang kita prediksi sebelumnya,” ungkapnya.
Sebagai alternatif yang lebih sehat, Dian membagikan sejumlah cara sederhana untuk mengelola stres secara mandiri. Beberapa di antaranya adalah menulis jurnal (journaling), mengatur waktu dengan lebih baik, mengonsumsi makanan bergizi, serta berolahraga secara rutin.
Namun, ia menekankan bahwa apabila individu berada dalam kondisi krisis emosional dan tidak mampu mengatasinya sendiri, maka langkah terbaik adalah mencari bantuan profesional.
“Ketika seseorang merasa sudah tidak mampu menangani emosinya sendiri, sangat dianjurkan untuk mendatangi psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat,” pungkasnya.




