telusur.co.id, Jakarta - Ketua Umum Front Pemuda Madura (FPM), Asip Irama mengatakan, saat ini Pilkada Sumenep 2020 sudah di depan mata. Dua paslon Fauzi-Eva dan Fattah-Ali Fikri tentu sudah menjalankan taktik dan strategi untuk memenangkan kontestasi.
Duel sengit adu kuat dua paslon pada Pilkada Sumenep 2020 sebentar lagi akan tersaji.
Terkait, siapa yang paling potensial memenangkan kontestasi politik pada Pilkada Sumenep 2020, Asip menilai bahwa jika dilihat dari komposisi partai pengusung maka pasangan Fattah Yasin-Ali Fikri yang didukung oleh koalisi gemuk lebih potensial.
Kendati demikian, kata Asip, koalisi gemuk, bukanlah faktor penentu kemenangan di kontestasi demokrasi.
Diketahui, Fattah Yasin-Ali Fikri didukung oleh beberapa partai, diantaranya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Nasdem, Pertai Persatuan Pembangunan (PPP), Golkar, Demokrat, Hanura dan Gelora.
Sedangkan, pesaingnya Fauzi-Eva hanya didukung PDI-P, Gerindra, PAN, PKS, dan PBB.
"Dalam peta elektoral Sumenep, partai pengusung Fattah-Ali Fikri lebih unggul karena menempatkan 30 wakilnya di DPRD. Sedangkan, sisanya, 20 kursi berasal dari partai pengusung Fauzi-Eva. Namun, gemuknya koalisi bukan faktor paling menentukan dalam memenangkan Pilkada," kata Asip di Jakarta, Selasa, (08/12/2020).
Selanjutnya, dia mengatakan dalam sistem demokrasi seperti dianut Indonesia, koalisi umumnya bersifat cair dan semi-permanen.
"Dengan demikian, koalisi berbasis ideologi (ideologically connected coalition) sekadar mimpi di siang bolong. Konsekuensinya ialah lemahnya loyalitas dari basis massa partai terhadap paslon yang didukung. Apalagi, Fattah Yasin bukan kader asli dari salah satu partai pengusung," kata dia.
"Logikanya, mana mungkin mereka akan loyal dan memberi dukungan penuh kepada calon ekternal yang bukan kader asli partai? Karena bisa saja parpol akan dicampakkan di tengah jalan ketika bulan madu politik sudah pahit. Indikasi semacam ini jelas sudah terbaca oleh parpol pengusung," imbuhnya.
Sehingga, dukungan oleh parpol koalisi terhadap Fattah Yasin bisa disebut dukungan setengah hati.
Berbeda dengan Fattah Yasin, Ahmad Fauzi meski diusung oleh koalisi yang ramping, namun ia adalah kader asli partai, yakni PDI-P.
Hal ini akan menjadi kunci menguatnya loyalitas dan soliditas kader PDI-P untuk memenangkan pasangan Fauzi-Eva.
Dalam konteks ini, Ahmad Fauzi akan lebih mudah menggerakkan mesin politiknya untuk mendulang suara di tingkat akar rumput (grass root).
"Selain soliditas dan loyalitas kader partai, faktor lain yang dapat menjadi kunci kemenangan pada Pilkada ialah popularitas," kata dia.
"Sistem multi-partai yang diterapkan di Indonesia berimplikasi pada de-ideologisasi partai. Sehingga, popularitas personal menjadi penting. Sebagai petahana, Ahmad Fauzi tentu tidak asing bagi masyarakat Sumenep. Lima tahun mendampingi Busyro Karim menjadi nilai tambah bagi Ahmad Fauzi," imbuhnya.
Kemudian, Asip menegaskan paling tidak, paslon sudah dikenal masyarakat Sumenep jauh sebelum Fattah Yasin muncul di hadapan publik sebagai kandidat calon bupati. Ada beberapa keutungan lain bagi Ahmad Fauzi sebagai petahana.
Pertama, kemampuan mengelola resiko rivalitas. Merangkul aktor-aktor informal dan formal partisan di Sumenep penting bagi keberhasilan memenangkan Pilkada.
"Paslon Fauzi-Eva melakukannya dengan memengaruhi tokoh penting yang berada di area basis lawan mereka. Sejumlah dukungan dari kiai Annuqayah adalah bukti kongkretnya. Padahal, Annuqayah sendiri adalah tempat lawan politiknya, Ali Fikri berasal," ujar Asip.
Dia menambahkan, faktor Kedua, mengetahui segmentasi pemilih Sumenep. Sebagai wakil bupati, Ahmad Fauzi tentu paham soal psikologi masyarakatnya. Dari sinilah, ia dapat merancang formula strategi politik yang relevan dan harus dijalankan sehingga mendapat simpati dari pemilih.
Secara sosio-antropologis, kultur masyarakat Sumenep tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kesantrian.
Sehingga, dalam konteks komunikasi politik, kesantunan di hadapan publik menjadi prioritas yang tidak bisa dinafikan. Dalam beberapa kesempatan, bahasa tubuh (gesture) Ahmad Fauzi dan Fattah Yasin memiliki perbedaan.
"Ahmad Fauzi terlihat lebih santun ketika berhadapan dengan kiai. Sedangkan, Fattah Yasin sebaliknya. Bahkan, Fattah pernah berbicara ‘sembrono’ terhadap salah satu kiai di Sumenep," kata dia.
"Sikap seperti ini akan menjadi boomerang bagi Fattah dan keuntungan bagi Fauzi. Sebab, salah satu faktor yang mempengaruhi preferensi pemilih ialah attitude paslon," tambah Asip.
Untuk diketahui, Pilkada Sumenep 2020 akan menjadi duel head-to-head yang menarik dan sengit. Kendati demikian, pasangan nomor urut satu, Fauzi-Eva memiliki potensi lebih besar memenangkan Pilkada kali ini. Namun, terlepas dari semua itu, siapapun pemenangnya, kita mengharapkan dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat Sumenep lima tahun ke depan.



