telusur.co.id, Jakarta - Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi menegaskan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak akan mengizinkan impor beras 1 Juta Ton pada saat panen raya di sejumlah daerah di Indonesia sedang berjalan.
“Saya ingin menjawab keresahan apa yang ada di masyarakat, jadi bapak, saya sekali lagi utarakan bahwa tidak ada beras impor ketika panen raya, pasti,” kata Mendag Lutfi dihadapan para pimpinan dan anggota Komisi VI DPR RI saat rapat kerja antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri Perdagangan RI, Menteri Luar Negeri RI, dan Menteri Hukum dan HAM RI, terkait Pembicaraan Tingkat I terhadap RUU tentang Persetujuan Kemitraan Ekonomi Kreatif Indonesia dengan Negara-Negara EFTA, di komisi VI DPR RI, Senayan, Senin (22/03/2021).
“Dan ini semua tidak ada impor beras pas lagi panen raya. Clear ya. jadi saya ingin supaya menenangkan semua,” tegas dia.
Menurut Menteri Lutfi, turunnya harga gabah ditingkat petani lantaran saat ini curah hujan sedang tinggi dan bukan karena adanya sentimen negative akibat isu kebijakan Impor Beras 1 Juta Ton.
“Jadi pada hari ini bapak, harga gabah petani itu turun bukan salah siapa siapa, bukan salah kabulog, bukan salah kementan. Kementan sukses karena hasil panen tahun ini menurut angka bps adalah sama atau sedikit dari tahun yang lalu. Permasalahannya hari ini karena curah hujan yang tinggi menyebabkan gabah petani tidak bisa dijual ke bulog karena basah.
“Ada kekeringan minimum dari bulog untuk bisa membeli untuk cadangan beras pemerintah, itu jelas, Nah, yang sekarang menjadi permasalahan pengering ditingkat petani itu tidak ada. jadi harganya begitu itu dipotong mesti segera digiling, kalau tidak digiling itu akan busuk,” ujar dia.
Mendengar pernyataan Menteri Lutfi, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDIP, I Nyoman Parta mempertanyakan korelasi wacana impor beras 1 Juta Ton dengan turunnya harga gabah ditingkat petani.
“Jika itu persoalannya apa urusannya dengan wacana impor pak, jika itu persoalannya kan harusnya itu yang kita carikan solusinya pak?” Tanya Nyoman Parta.
“Bapak Tanya kesaya kan pak, ada informasi impor beras atau tidak, (saya jawab) Tidak ada,” Jawab Mendag Lutfi.
Mendag Lutfi pun membeberkan adanya opsi pengambilan keputusan impor beras. Menurut dia, opsi itu sudah ada sejak tahun lalu sebelum dia ditunjuk sebagai Menteri.
“Saya akan utarakan, sebelum saya datang pada tanggal 23 Desember 2020. Sudah ada notulen rapat di tingkat kabinet, jadi, artinya ini ditingkat lebih atas dari rakortas menko yaitu memutuskan bahwa bulog untuk tahun 2021, itu musti mempunyai cadangan iron stok, salah satunya pengadaan (beras) 500rb Ton, bisa dari impor, (Keputusan itu sudah ada) sebelum saya datang. jadi waktu saya datang, saya hanya menghitung jumlahnya,” beber Lutfi.
“Bapak, kalau kita lihat sekarang, jumlahnya 500ribu Ton, jadi gini, 800 ribu (Ton) dikurangi sama beras 2018, kalau beras 2018 itu antara 270 Ton sampai 300 ribu (Ton) artinya bulog hari ini, bisa cadangannya dibawah 500ribu, itu yang saya takutkan,” tambah Lutfi.
Menurut Mendag Lutfi, apabila cadangan beras dibawah 500 Ribu Ton, pemerintah akan sangat mudah ditekan oleh Pedagang dan juga para spekulan. Kendati demikian, Mendag Lutfi kembali memastikan Kementeriannya tak bakal melakukan Impor ketika Panen raya.
“Karena dengan 500ribu (Ton) itu pemerintah bisa dipojokan oleh pedagang dan oleh spekulan,” ujar dia.
“Kalau harganya naik, saya juga yang salah pak, contoh sekarang harga cabe, karena hujan skearang mendekati harga 90rb, siapa yang salah, saya juga, Padahal urusan harga cabe naik, kenapa sya juga yang disalahkan, jadi ini tanggung jawab saya, sudah kita gak usah memperlebar dari diskusinya, saya janji tidak ada impor ketika panen raya,” tambah dia.



