telusur.co.id - Menteri Haji dan Umrah RI, Moch. Irfan Yusuf, menegaskan bahwa wukuf di Arafah bukan hanya menjadi puncak spiritual ibadah haji, tetapi juga tonggak baru pelayanan haji Indonesia yang lebih fokus, inklusif, dan berkeadaban.

Hal tersebut disampaikan Menhaj dalam sambutan Wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah 1447 H/26 Mei 2026 di hadapan jemaah haji Indonesia, jajaran Amirulhaj, Tim Pengawas DPR RI, perwakilan pemerintah Indonesia di Arab Saudi, serta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

“Hari ini kita berada di Arafah. Di tempat yang mulia ini, jutaan manusia datang dengan pakaian yang sama, doa yang sama, dan harapan yang sama. Semua menundukkan diri di hadapan Allah SWT,” ujar Moch. Irfan Yusuf dikutip Kemenhaj, Rabu, (27/5/2026).

Ia menuturkan, penyelenggaraan haji tahun 1447 H/2026 M menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya dilaksanakan dalam kerangka Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Karena itu, seluruh sistem pelayanan diarahkan agar negara hadir lebih dekat dan responsif terhadap kebutuhan jemaah.

“Pelayanan haji tahun ini harus menjadi bukti bahwa negara hadir lebih fokus, lebih terarah, dan lebih dekat kepada jemaah,” tegasnya.

Menurut data yang disampaikan Menhaj, seluruh fase keberangkatan jemaah haji reguler Indonesia telah selesai. Sebanyak 527 kloter dengan total 202.551 jemaah dan 2.098 petugas telah tiba di Makkah. Selain itu, 16.596 jemaah haji khusus juga sudah berada di Arab Saudi.

Saat ini, pemerintah memusatkan perhatian pada fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina), termasuk kesiapan tenda, transportasi, konsumsi, layanan kesehatan, perlindungan jemaah, hingga penempatan petugas di lapangan.

Dalam sambutannya, Moch. Irfan Yusuf juga menekankan konsep “Tri Sukses Haji” sebagai arah utama penyelenggaraan ibadah tahun ini. Sukses ritual diwujudkan melalui ibadah yang sah dan khusyuk, sukses ekosistem ekonomi haji melalui tata kelola yang memberi manfaat bagi bangsa, serta sukses keadaban dan peradaban yang diharapkan melahirkan pribadi lebih disiplin, sabar, dan membawa kebaikan bagi masyarakat.

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap jemaah lansia, disabilitas, dan berisiko tinggi melalui penerapan skema murur agar perpindahan dari Arafah menuju Mina berlangsung lebih aman dan tertib.

“Setiap jemaah harus merasa dilindungi. Setiap keterbatasan harus mendapat dukungan. Setiap petugas harus hadir dengan empati, sigap, dan memahami kebutuhan khusus jemaah,” ujarnya.

Untuk menunjang kenyamanan ibadah, Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia menyiapkan 15 porsi makanan siap santap bercita rasa Nusantara selama fase Armuzna. Distribusi konsumsi bahkan dilakukan lebih awal agar jemaah dapat lebih fokus menjalani ibadah.

Selain itu, pengawasan layanan diperkuat melalui digitalisasi berbasis Command Center, SIKABAH, dan Kawal Haji guna mempercepat respons petugas secara terukur dan berbasis data.

Dalam pengelolaan dam, pemerintah mencatat sebanyak 145.341 jemaah telah melakukan pembayaran dam. Sebagian besar distribusi daging dam jemaah Indonesia nantinya juga diarahkan untuk membantu masyarakat Palestina melalui koordinasi dengan Adahi dan Pemerintah Arab Saudi.

Menutup sambutannya, Menhaj mengajak seluruh jemaah memanfaatkan momentum wukuf sebagai ruang muhasabah dengan memperbanyak doa, zikir, istighfar, serta menjaga kesehatan selama menjalani puncak ibadah haji.

“Arafah adalah ruang muhasabah. Doakan keluarga, para pemimpin bangsa, keselamatan Indonesia, dan semoga seluruh jemaah kembali ke Tanah Air sebagai haji yang mabrur,” tutupnya.