telusur.co.id -Kolaborasi antara kelompok nasionalis dan Nahdliyin kembali diwujudkan dalam langkah konkret. Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, menegaskan komitmennya untuk mendampingi petani dan memperkuat ketahanan pangan bersama Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU).
Komitmen tersebut diwujudkan lewat penyaluran 1.000 bibit tanaman produktif—seperti alpukat dan durian okulasi—hasil sinergi dengan Kementerian Kehutanan melalui BPDAS. Bantuan ini diserahkan pada acara pelantikan Pengurus LPPNU Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2026–2030 di Yayasan Roudlotul Huda, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Rabu (12/8/2026).
Sebanyak 500 bibit langsung ditanam dan diserahkan secara simbolis pada acara yang mengusung tema “Menghijaukan Bumi, Memperkuat Ketahanan Pangan: Khidmah LPPNU untuk Banyuwangi” tersebut.
Sementara sisanya akan didistribusikan secara bertahap melalui LPPNU di tingkat MWC NU.
Bagi Sonny, kolaborasi ini bukan sekadar program pemberdayaan ekonomi dan ekologi, melainkan cerminan dari kedekatan historis dan ideologis yang telah mengakar kuat antara kaum nasionalis dan jam'iyah Nahdlatul Ulama.
Di hadapan Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH. Achmad Khosim, Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi, serta Ketua dan Sekretaris LPPNU terlantik, Muhammad Yusuf dan Syaiful Nor Hakim, Sonny memaparkan benang merah perjuangan kedua kelompok tersebut.
"Kalau yang diperjuangkan di NU ini biasa disebut kaum mustadhafin (golongan yang dilemahkan), di kami mengistilahkannya kaum marhaen. Dua diksi tersebut hakikatnya memiliki makna yang sama," tegas politisi PDI Perjuangan ini.
Sonny mengingatkan, kedekatan itu sudah terjalin sejak era Bung Karno. Presiden RI pertama tersebut bahkan diberi gelar Waliyul Amri Ad-Dharuri bis-Syaukah oleh para ulama NU dalam forum Konferensi Alim Ulama se-Indonesia.
"Menurut Bung Karno, kaum marhaen pada dasarnya adalah masyarakat yang dimiskinkan oleh sistem yang menindas, sama halnya dengan kaum mustadhafin yang selalu dibela oleh NU," paparnya.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Alumni GMNI ini juga membuka catatan sejarah lahirnya Hari Santri Nasional yang tak lepas dari inisiatif dua alumni GMNI, yakni KH. Thoriq bin Ziyad (Pengasuh Ponpes Babussalam Malang) dan Dr. Achmad Basarah (DPP PDI Perjuangan/Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI).
"Dari dorongan dua tokoh inilah, lahir kontrak politik pada Pemilu 2014 yang berujung pada penetapan Keppres tentang Hari Santri. Kehadiran saya di sini adalah upaya menjaga soliditas sesama syubbanul wathon yang akan terus bergerak bersama," seru Sonny.
*Menghidupi Karakter Santri dan Pesan Turba*
Meski berlatar belakang aktivis nasionalis dan berterus terang tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren, Sonny menegaskan ikhtiarnya untuk terus menghidupi akhlak seorang santri.
Ia mengutip pandangan KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), yang menyebut bahwa ruh seorang santri tidak sebatas pada mereka yang mondok, melainkan tercermin pada sifat tawadhu' (rendah hati), semangat belajar sepanjang hayat (thalabul 'ilmi), moderat (wasathiyah), dan cinta tanah air (hubbul wathon minal iman).
Sebagai wujud thalabul 'ilmi, Sonny menyebut dirinya yang kini tengah menyelesaikan studi S3, berpegang pada filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.
Ia juga menyelipkan cerita hangat tentang usahanya mempraktikkan sikap tawadhu' setibanya di lokasi acara.
"Ketika saya tadi diminta panitia langsung memasukkan mobil ke halaman, saya tidak mau. Saya merasa kurang adab kalau mobil saya harus berhenti hanya beberapa meter dari panggung tempat para kiai duduk. Ini bentuk tawadhu' saya. Kalau dari mobil saya tidak merangkak, tapi jalan kaki ya agar tidak kotor, karena An-Nazhafatu Minal Iman (kebersihan sebagian dari iman)," kelakarnya yang disambut tawa hadirin.
Langkah nyata Sonny ini sejalan dengan arahan Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, yang mewanti-wanti pengurus LPPNU agar tidak hanya bekerja secara administratif.
"Pengurus LPPNU harus rajin turun ke bawah, mendengarkan keluhan di sawah-sawah, dan mencarikan solusi atas persoalan pertanian," pesannya.
Merespons arahan tersebut serta rencana Ketua LPPNU Banyuwangi menyalurkan bantuan tiga alat pertanian untuk MWC NU Songgon, Singojuruh, dan Kabat pada Oktober mendatang, Sonny menyatakan kesiapannya untuk terus pasang badan.
"Insyaallah, sebagai Anggota Komisi IV DPR RI saya siap berkolaborasi penuh. Mari kita dampingi petani kita demi terwujudnya masyarakat yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, yang dalam bahasa konstitusi kita adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkas Sonny.



