Menyikapi RRC Kita Harus Rasional - Telusur

Menyikapi RRC Kita Harus Rasional


Telusur.co.id - Waktu diskusi di YARSI Senin kemarin, seorang penanggap mendesak putusin aja hubungan dengan cina. Saya bilang gini. Kalau menyikapi Cina dalam hal ini RRC, kita harus rasional. RRC punya kepentingan nasional, kita juga punya kepentingan nasional.

Kedua. Lepas dari pasang surut hubungan RI-RRC dari era bung karno, pak harto hingga kini, indonesia tetap menganut one china policy. Kebijakan luar negri yang mengakui satu cina. Yaitu RRC atau cina daratan. Bukan taiwan, apalagi hongkong, yang hakekatnya daerah RRC yang disewa Inggris. Namun pada 1997 kembali jadi wilayah kedaulatan RRC.Tapi khusus hongkong, sistem kapitalisme boleh tetap ditrapkan asal mau melayani kepentingan nasional.

Maka RRC menerapkan one country two system. Di negrinya sendiri harus tetap menganut sosialisme meski masyrakatnya harus dimodernisasi dengan tetap brrwatak cina. Tapi ke luar, karena pemerintah RRC sadar para taipan diaspora di berbagai kawasan dunia merupakan aset ekonomi nasional, one country two system ini juga ditrapkan pada para taipan ini.

Pada era bung Karno, pola cina ini belum nampak, tapi sukarno secara intuitif sudah baca gelagat. Maka strategi bung karno, dengan RRC hubungan dijalin secara mesra tapi rasional. Yang bisa saling menguntungkan buat strategi mengimbangi blok barat,  rrc-ri sejalan dan kerjasama.

Namun menghadapi cina perantauan di tanah air, bung karno memgeluarkan pp no 10 melarang orang cina berdagang mulai dari kabupaten. Kebijakan ini bukan melarang orang cina dagang di negri kita, tapi BK melihat adanya mata rantai lokal, regional dan global, yang mana jaringannya harus diputus. Terutama yang menuju taiwan dan hongkong.

Pada era Suharto, beda lagi. Pak Harto juga rasional pada RRC. Memang gegara PKI mesra sama Beijing, begitu G30S 1965 gagal dan PKI terlibat , maka pak Harto memakai istilah aneh dalam diplomasi. Pembekuan hubungan diplomatik dengan RRC. 

Rupanya pak harto nyadar, begitu pki tumpas dan pak harto ganti bung karno, para taipan di sini dan jaringan taiwan plus hongkong, pada eforia. Sorak sorak bergembira. Dikiranya, wah saatnya nih kita ambil alih kendali dari beijing. 

Ternyata pak harto dengan istilah pembekuan diplomatik dengan rrc, sejatinya tetap menjalin hubungan secara informal dengan jejaring RRC yang dari jalur Deng Zhioping dan Chou Enlai. Karena jaringan inilah ahli waris Mao Zhedong yang yang sekarang estafet dipegang Xi Jinping.

Dengan begitu, Pak Harto tetap secara senyap menjalin kerjasama dengan beijing, karena tidak mau masuk orbit pengaruh taiwan dan hongkong.

Karena itu dalam melihat perkembangan di hongkong dan taiwan akhir akhir ini, kita tidak boleh baperan. Harus rasional. Yang jadi problem pokok Jokowi-Jk, dalam berurusan dengan RRC, keduanya melanggar bung karno dan pak harto. Justru malah melibatkan jaringan taipan lokal yang bermata rantai regional dan global ini, dalam ikut mempengaruhi hubungan RRC-RRI. 

Jadinya hubungan RRI-RRC sama sekali tidak rasional. Apalagi saling menguntungkan.

 

Oleh : Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute


Tinggalkan Komentar