telusur.co.id - Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani mengatakan pernyataan Moeldoko yang menyebut bahwa ia menerima pinangan jadi Ketum KLB untuk menyelamatkan Partai Demokrat merupakan bentuk penyesatan opini.
Moledoko mencoba membangun kesan seolah menjadi aktor pasif yang menerima pinangan, namun kenyataan yang didukung oleh banyak bukti ia adalah aktor aktif sekaligus aktor kunci yang menggunakan mantan-mantan kader Partai Demokrat sebagai operator yang tergabung dalam gerombolan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD).
"Operasi politik seperti ini bukan pertama kalinya oleh Moeldoko untuk memenuhi syahwat politiknya," kritiknya, Minggu.
Sebelumnya pernah mencobanya di Partai Golkar, PPP, Hanura dan PAN namun semuanya tidak berhasil karena partai-partai tersebut adalah bagian dari koalisi pemerintah sehingga tak berhasil karena pergerakan Moeldoko bisa merusak konstelasi dan hubungan partai koalisi dengan pemerintah.
Akan berbeda dampaknya jika operasi ini dilakukan terhadap Partai Demokrat yang berada di luar koalisi Parpol pendukung pemerintah. "Jadi kami tegaskan bahwa Moeldoko adalah aktor aktif yang menghalkan segala cara, mengabaikan konstitusi Partai Demokrat dan berbagai peraturan perundangan serta regulasi lainnya untuk memenuhi ambisi politiknya."
Yang kedua, Moeldoko mencoba melakukan pembodohan publik dengan mempresentasikan alasan pengambilalihan untuk penyelamatan Partai Demokrat.
Sepertinya ia tak mengerti dan memahami apa yang disampaikannya. Logika ini bisa diterima jika Moeldoko memiliki modal politik atau rekam jejak yang istimewa sehingga kehadirannya bisa mendokrak naik elektabilitas Partai Demokrat sebagaimana dulu SBY pada 2004 dan 2009 yang elektabilitasnya sangat tinggi sehingga Partai Demokrat menerima limpahan elektoral.
Ini justru sebaliknya, mengutip Thomas P. Power seorang Indonesianis dari The University of Sydney “...bagaimana mungkin AHY elektabilitasnya 7-8%, digantikan orang yang elektabilitasnya 0%? Jadi upaya kudeta ini tak bisa lain hanya dibaca sebagai upaya menghancurkan Partai Demokrat...” jadi argumentasi Moeldoko jauh panggang dari api.
Yang ketiga, Moeldoko sebelumnya tercatat sebagai petinggi Partai Hanura. Jangankan menyelamatkan, bahkan mempertahankan capaian Partai Hanura pun Moeldoko tak sanggup, malah Partai Hanura tereleminasi dari senayan karena tak mampu melewati ambang batas parlemen. "Jadi semakin menegaskan bahwa secara empirik pun Moeldoko tak punya kompetensi dibidang politik. pernyataannya hanya pepesan kosong semata," tandasnya. [ham]



