Musni Umar Duga Pelaku Vandalisme Musholla Terpapar Komunisme - Telusur

Musni Umar Duga Pelaku Vandalisme Musholla Terpapar Komunisme

Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Musni Umar. (Ist).

telusur.co.id - Sosiolog  Musni Umar angkat bicara soal aksi vandalisme di Musholla Darussalam, Perumahan Villa Tangerang Elok Kelurahan Kuta Jaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang pada Selasa (29/9/20) lalu.

Menurut Musni, ada tiga kemungkinan di balik aksi pelaku, Satrio (18), mencoret-coret dan melakukan perusakan di musholla tersebut. Pertama, Musni menduga Satrio terpapar komunisme.

"Setidaknya ada tiga kemungkinan dugaan saya. Pertama, yang bersangkutan mendapat pengaruh dari paham komunisme," kata Musni dalam video yang diunggah di akun YouTube-nya, yang dilihat wartawan, Jumat (2/10/2020).

"Mengapa saya katakan seperti itu? Karena komunis itu yang dia sasar ulama, ustadz, kyai, dan tempat beribadah yaitu masjid dan musholla. Jadi kita lihat apa yang dilakukan Satrio ini mirip-mirip seperti itu," ujarnya.

Kedua, Musni menyebut ada kemungkinan si pelaku yang merupakan mahasiswa semester 1 jurusan psikologi di sebuah universitas swasta di Jakarta itu terpapar paham Islamophobia.

"Yang kedua, boleh jadi juga yang bersangkutan ini terpapar dengan paham Islamphobia yang tengah trend di dunia barat," ucap dia.

"Yang melakukan itu bisa dia muslim, tapi sangat minim pemahamannya terhadap Islam hingga dia dipengaruhi dari bacaan-bacaan yang dia baca," sambungnya.

Menurutnya, meski Satrio seorang muslim, namun tidak menutup kemungkinan dia terpapar Islamphobia lewat bacaan atau pemberitaan di media sosial hingga membuatnya nekad melakukan vandalisme di Musholla Darussalam.

"Kalau yang dilakukan di dunia barat itu umumnya bukan muslim, kafir. Jadi mereka sangat benci terhadap Islam," terang Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) itu.

"Tapi kalau Satrio ini sepanjang yang kita dengar dia muslim, tapi mungkin karena pengaruh bacaan itu, bisa juga mengikuti pemberitaan di media sosial termasuk YouTube yang berkaitan dengan Islamphobia yang marak di barat, dia kemudian terpengaruh," jelasnya.

Kemungkinan ketiga, Musni menduga pelaku stres sehingga melampiaskan perasaannya dengan mencoret-coret dinding Musholla dengan kata-kata bernada SARA seperti 'saya kafir, anti Islam, anti khilafiyah, tidak ridho', kemudian merobek kitab suci Alquran dan menggunting sajadah Musholla Darussalam.

"Yang ketiga, bahwa yang bersangkutan ini stres, dia kemudian melampiaskan perasaan dia yang gundah gulana itu stres dengan mencoret-coret masjid, merobek Alquran, begitu juga tempat sujud itu dicoretin dan kemudian dia menulis dirinya kafir," ungkap Musni.

"Polisilah yang bisa menyidik, dia bergaul dengan siapa, kalau dia membaca pemberitaan maka apa saja catatan- catatan yang ditorehkan ketika membaca atau mendengar berita yang disiarkan di media sosial atau di YouTube," pungkasnya.

Diketahui, polisi telah menetapkan Satrio, pelaku vandalisme sebagai tersangka penistaan atau penodaan agama. Pemuda 18 tahun itu mencorat-coret Musholla Darussalam di Tangerang dengan kata-kata berbau SARA serta merusak Alquran pada Selasa (29/9/2020).

"Kita tetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka atas kasus perbuatan corat-coret membuat berbagai tulisan, kemudian merobek buku di situ dan juga meggunting sejadah," kata Kapolres Kota Tangerang Komisaris Besar Ade Ary Sam Indardi, Rabu (30/9/2020).

Ade mengatakan, tersangka dijerat pasal 156 KUHP karena diduga melakukan perbuataan yang dapat menimbulkan permusuhan atau penodaan agama. "Kebencian dan penghinaan satu golongan atau beberapa golongan," ujarnya. [Tp]


Tinggalkan Komentar