P3S: Indonesia Belum Layak Disebut Negara Maju - Telusur

P3S: Indonesia Belum Layak Disebut Negara Maju

Direktur Esekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie. (Foto: teluaur.co.id/Fahri).

telusur.co.id - Direktur Esekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie mengaku kaget mendengar berita mengejutkan Indonesia berubah status menjadi sebuah negara maju. 

Jerry mengaku, memang dirinya sempat berkhayal Indonesia saat ini sudah sejajar dengan Jepang, Korea, Jerman, dan Amerika Serikat (AS).

"Terlintas dalam benak saya apa alasan Amerika menyebut Indonesia negara maju. Dari GNP, GDP, dari buying power atau selling power Indonesia sudah baik? Atau indikator apakah Human Developing Index (HDI)? Ataukah pendapatan perkapita kita masih mempihatinkan," kata Jerry di Jakarta, Senin (2/3/20).

Jerry menjelaskan, menurut World Bank, yang diterima untuk kriteria “developed country” adalah GNI per kapitanya harus di atas 12.000 dolar AS, bukan berdasarkan besaran GDP. Karena yang diperhitungkan adalah daya beli masyarakatnya, bukan output ekonomi negaranya. 

"GNI per kapita Indonesia bahkan belum tembus 4.000 dolar AS pada 2019. Jadi tentu saja kita masih jauh dan belum layak dianggap negara maju," ujarnya.

Begitu pula, kata dia, Human Global Index (HGI) Indonesia masih kalah tertinggal. Baik smart industry, human capital, innovation ecosystem, innovation technology industri digital, Indonesia tertinggal jauh dalam hal inovasi dengan hanya menduduki peringkat ke-85 dari 129 negara.

"Berbicara soal Global Innovation Index (GII) masih memprihatinkan. Pada 2019 duduk di posisi 85 dari 129 negara. Kondisi peringkat inovasi Indonesia sama seperti Malaysia yang posisinya juga stagnan. Hanya saja, Malaysia lebih unggul karena duduk di peringkat 35," bebernya.

Hal lain, Manufacture industry (industri manufaktur), lanjut sia, Indonesia tak bisa bersaing. 

"Coba bayangkan sea food saja belum bisa masuk pasaran Amerika, udang gagal tembus, bahkan perikanan, biodiesel, rumput laut Mexico.kelapa sawit tak bisa tembus Eropa," terangnya.

Menururnya, predikat yang diberikan Amerika terhadap Indonesia memang agak berat, lantaran tidak berbarengan dengan sistem teknologi tanah air. Mobil Esemka yang dibanggakan sejauh ini kurang jelas keberadaanya. 

"Indikator negara maju tidak mengoleksi motor bebek, hanya ada motor gede seperti Harley Davidson. Saat ini saja jumlah gojek 2,5 juta dari 119 juta kendaraan bermotor di Indonesia. Data BPS 2015 jumlah kendaraan bermotor 121 juta unit. Tahun 2019 berjumlah 162,2 juta unit," ungkapnya.

Khusus di Jakarta, terang dia, jumlah motor terus meningkat menjadi 13,3 juta unit pada 2016. Dengan rata-rata pertumbuhan 5,3 persen per tahun. Jumlah ini diperkirakan mencapai 14 juta unit pada 2017 dan 14,74 juta unit pada 2018.

Belum lagi untuk urusan pendidikan, Jerry menjelaskan, Indonesia terlempar di peringkat 200 besar dunia. 

"Bayangkan saja kita negara terbanyak penduduk di Asia Tenggara tapi soal pendidikan kalah jauh dengan Singapura. Universitas National Singapura berada di peringat ke-11 dunia Tsing Hua (18). Meski anggaran APBN untuk pendidikan Rp2540 triliun untuk pendidikan cukup besar yakni 20 persen. Justru, defisit anggaran Rp300 triliun," paparnya.

"Saya condong melihat Indonesia dikeluarkan dari negara berkembang lantaran AS menghindari memberikan bantuan lagi ke Indonesia. Bukan karena alasan Indonesia negara maju," kata dia. 

Dijelaskannya, di negara maju telepon umum masih berlaku dan juga pos menjadi andalan mereka. Berbeda dengan Indonesia dimana telepon umum sudah tak berlaku lagi. Padahal ini sarana publik. Di sinilah menurutnya foreign and goverment policy Amerika dilakukan.

Indiktor negara maju lainya adalah Indeks Persepsi Korupsi sangat rendah. Bagaimana mungkin dikatakan negara maju tapi korupsi merajalela. Coba bayangkan korupsi ASN saja mencapai 3560 orang. Belum lagi kasus Jiwasraya yng sudah mencapai Rp17 triliun, ASBARI Rp.10 triliun. Kasus bribery atau suap dan nepotisme di negara maju relatif kecil. Namun di Indonesia kasus ini sangat fantastis.

"Human Developing Index (HDI) saja kita terlempar diposisi 111 dari 189 negara di dunia. Ini membuktikan kita masih jauh tertinggal alias kalah kelas dengan negara lain," ungkapnya.

Dia menjelaskan, si Singapura saja peringkat HDI pada 2015 lalu di posii ke-22 dan tahun 2019 di posisi ke-9 dunia. Lebih miris lagi, Indonesia tertinggal dari Malaysia, Brunei dan Thailand. Indonesia juga masih kalah bersaing dengan Samoa, Maladewa dan Andorra.

"Sejatinya, predikat kita untuk jadi negara maju masih dipertanyakan. Tidak salah jika semua kriteria dan indikator ikut mendukung. Sepengetahuan saya, negara maju di Asia Tenggara baru Singapura. Vietnam barangkali tahun 2025 baru. Untuk ke arah sana perlu persiapan matang," tambahnya.

Sementara jumlah peduduk miskin menurut data statistik BPS, pun masih berada di kisaran 9,14 persen pada 2019 lalu atau sekitar 25,14 juta orang. 

"Itulah kondisi bangsa ini. Indonesia butuh beberapa tahun lagi untuk menjadi negara maju," pungkas Jerry. [Tp]


Tinggalkan Komentar