telusur.co.id - Ketua Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Slamet Maarif mengatakan, Gerakan Mujahid 212 muncul karena adanya penistaan agama yang tidak langsung ditindak secara adil dan tegas. Karenanya, kata dia, Reuni Mujahid 212 hadir untuk mencegah supaya penistaan terhadap agama tidak terjadi lagi.
Hal itu disampaikan Slamet usai Konferensi Pers acara "Maulid Agung dan Reuni Mujahid 212 tahun 2019" di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (29/11/19).
"Masih ada kelompok-kelompok, masih ada kita-kita, orang yang tidak akan pernah membiarkan di negara kita, siapapun melakukan penistaan agama, terhadap agama apapun," kata Slamet.
Slamet mengatakan, pihaknya meminta kepada pihak kepolisian untuk menindak tegas siapapun yang melakukan penistaan agama.
"Proses secara hukum. Supaya apa, supaya tidak menimbulkan kekeruhan baru di masyarakat, supaya masyarakat melihat nilai-nilai keadilan," tegasnya.
Oleh karenanya, Sekretaris Steering Committee (SC) Reuni Mujahid 212 itu meminta, jangan sampai ada lagi kasus penistaan agama yang dibiarkan. Dia pun mencontohkan pernyataan Sukmawati Soekarnoputri yang dinilainya telah melakukan penistaan agama karena membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden RI pertama, Soekarno.
"Ini kan situasi sudah kondusif. Tapi kalau penistaan agama kembali dilindungi, ya siapa yang bisa jamin kalau negara ini akan kondusif terus menerus," terangnya
"Oleh karenanya agar negara terjaga, kita minta pihak kepolisian untuk berlaku adil, tegakkan hukum kepada penista agama, siapapun, agar kedepannya tidak ada lagi di negara kita orang yang seenaknya menistakan agama, menistakan Nabi yang kita yakini," pungkasnya. [Tp]



