telusur.co.id - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Senin memperingatkan bahwa Israel akan menghadapi respons yang “menyakitkan” apabila ketegangan kembali meningkat. Ia juga menuduh Amerika Serikat terlibat langsung dalam mendukung operasi militer Israel dan ekspansi regionalnya.
Dalam pidato yang disiarkan saluran televisi al-Manar pada sebuah upacara peringatan, Qassem menyatakan bahwa Israel tengah menjalankan strategi “tekanan maksimal” untuk memaksa konsesi politik tanpa harus menanggung biaya perang yang lebih luas.
Menurutnya, meskipun Israel mungkin meraih keunggulan militer taktis dalam sejumlah konfrontasi, negara tersebut tidak akan mampu memaksakan kendali maupun menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan.
Qassem menggambarkan Israel sebagai entitas ekspansionis yang berupaya memperluas kendali teritorial di seluruh wilayah Palestina dan kawasan sekitarnya. Ia juga memperingatkan adanya upaya aneksasi bertahap dan formal atas wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Terkait situasi di Gaza, Qassem mengklaim bahwa sebagian besar wilayah tersebut kini berada di bawah kendali langsung Israel, seraya menuding adanya pola perluasan pengaruh secara sistematis.
Lebih lanjut, ia menyebut Amerika Serikat sebagai “mitra penuh” dalam tindakan Israel. Qassem menuduh Washington turut mengelola operasi serta memberikan dukungan politik dan diplomatik bagi kampanye militer maupun langkah perluasan teritorial.
Ketegangan antara Hizbullah dan Israel meningkat menyusul pecahnya konflik Gaza pada Oktober 2023. Sejak itu, kedua pihak terlibat dalam pertempuran lintas perbatasan yang memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.
Kesepakatan gencatan senjata antara kedua belah pihak mulai berlaku pada 27 November 2024. Namun demikian, Israel dilaporkan masih melancarkan serangan berkala di wilayah Lebanon dengan alasan menargetkan ancaman dari Hizbullah, di tengah situasi yang tetap rapuh dan berpotensi kembali memanas. [ham]



