telusur.co.id - Ketegangan di Jazirah Arab kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman melontarkan ancaman keras terhadap Arab Saudi menyusul serangan yang menghantam Bandara Internasional Sanaa. Eskalasi terbaru ini memunculkan kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik berskala besar yang sebelumnya sempat mereda sejak gencatan senjata 2022.

Dalam pernyataannya kepada media, anggota biro politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, menegaskan bahwa kelompoknya akan membalas setiap serangan yang mereka yakini dilakukan oleh Arab Saudi. Ia bahkan mengancam akan menyerang bandara-bandara di Arab Saudi sebagai respons atas serangan terhadap Bandara Sanaa.

"Keputusan mereka menyerang Bandara Sanaa untuk mencegah penerbangan datang dan pergi memberi Yaman hak untuk menyerang bandara-bandara mereka dan memberlakukan pengepungan seperti yang mereka lakukan kepada kami," ujar al-Bukhaiti, seperti dikutip Al Jazeera.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan terhadap Bandara Sanaa menandai berakhirnya fase deeskalasi yang telah berlangsung sejak kesepakatan gencatan senjata pada 2022.

Serangan terhadap Bandara Sanaa terjadi pada Senin. Houthi menuding Arab Saudi berada di balik operasi tersebut. Namun, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan pihaknya bertanggung jawab atas serangan itu.

Menurut pemerintah Yaman, operasi tersebut dilakukan untuk mencegah sebuah pesawat dari Iran mendarat di Sanaa, wilayah yang dikuasai Houthi. Pesawat itu disebut membawa delegasi Houthi yang baru kembali dari Teheran setelah menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Houthi meluncurkan rudal balistik ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi pada Selasa. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengklaim seluruh rudal berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.

Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb

Selain ancaman serangan terhadap Arab Saudi, Houthi juga membuka kemungkinan menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

Al-Bukhaiti menegaskan bahwa seluruh opsi masih terbuka jika konflik terus berlanjut.

"Bab al-Mandeb adalah aset strategis yang dimiliki Yaman. Kami akan menggunakan kartu ini terhadap negara-negara yang melakukan agresi terhadap kami," katanya.

Ancaman tersebut menimbulkan kekhawatiran di pasar global karena Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez.

Situasi menjadi semakin sensitif karena ketegangan di Bab al-Mandeb muncul bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis lain yang sebelumnya menjadi titik panas dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat.

Apabila gangguan terjadi di kedua jalur tersebut secara bersamaan, distribusi minyak dunia berpotensi mengalami hambatan signifikan. Kondisi itu dikhawatirkan memicu lonjakan harga energi global sekaligus mengganggu rantai pasok perdagangan internasional.

Houthi sebelumnya juga telah beberapa kali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah yang mereka klaim memiliki keterkaitan dengan Israel maupun Amerika Serikat, sehingga menambah kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di kawasan tersebut.