telusur.co.id - Dalam situasi ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa Prancis tidak akan terlibat dalam operasi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan pada rapat Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Prancis pada Selasa (17/3).
“Kami bukan pihak yang terlibat dalam konflik tersebut. Oleh karena itu, Prancis tak akan pernah terlibat dalam operasi untuk membuka atau membebaskan Selat Hormuz dalam kondisi saat ini,” kata Macron.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut bahwa Macron bersedia membantu membuka kembali Selat Hormuz guna memastikan kebebasan navigasi. Trump juga telah meminta beberapa negara, termasuk China, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Prancis, mengirim kapal perang untuk menjaga keamanan pelayaran.
Ketegangan meningkat setelah pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran, yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Eskalasi ini menyebabkan terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia, sehingga berdampak pada ekspor dan produksi energi global.
Dengan menegaskan posisi netral, Prancis menunjukkan sikap hati-hati dalam menghadapi krisis yang berpotensi memicu konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah. [ham]



