telusur.co.id - Kongres Luar Biasa PSSI, untuk memilih ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota komite eksekutif (Exco) PSSI periode 2019-2023 membuat beberapa calon Ketum kecewa.
Tidak sedikit yang menilai PSSI selama ini cenderung tertutup, tidak transparan terhadap proses kongres.
Salah satunya, calon Ketum PSSI, yang mundur dalam pemilihan, Vijaya Fitriyasa. Dia menyebut kongres PSSI tidak demokratis, dan disetting untuk calon tertentu.
"Iya betul, betul," kata Vijaya kepada wartawan, di Hotel Sharing-La, Jakarta Pusat, Sabtu (2/11/2019).
Harusnya, kata dia, menurut statuta PSSI, 30 hari sebelum kongres ada electoral code kepada FIFA, voters, juga kandidat. Namun sampai saat ini kita belum menerima electoral code itu.
"Kemudian pada saat kita mendaftar ketum dijanjikan akan ada sosialisasi tata cara kongres pada tanggal 26 Oktober. Tapi tanpa ada pemberitahuan apapun, acara itu dibatalkan," kata Vijaya.
Saat pihaknya menghubungi Sekertariat PSSI, mereka menjanjikan akan menyampaikan secara tertulis. Tetapi pada faktanya sampai hari H pemilihan, dia belum terima itu.
"Bagaimana kita mau ikuti kongres kalau tatacaranya nggak tau."
Kemudian dijanjikan pula akan ada debat antar kandidat supaya semua kandidat bisa sampaikan visi misi dan program kerjanya. Sehingga, para voter bisa mimilih calon yang miliki visi misi program terbaik untuk PSSI.
"Tapi ini dibatalkan tanpa alasan jelas. Sekarang tiba-tiba langsung pemilihan. Inikan kelihatan kongres tidak demokratis," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, tak lama setelah acara kongres PSSI resmi dibuka, tidak lama beberapa kandidat calon Ketum keluar dari ruangan, seperti Benhard Limbong, Vijaya Fitriyasa, dan Fary Demy Francis.
Kepada wartawan, Fary Demy Francis mengatakan, proses pemilihannya tidak fair play dan tidak transparan.
"Pertama kita dijanjikan bakal ada sosialisasi tata cara pemilihan. Sampai sekarang tata cara itu tidak dijelaskan," kata Fary Demy.
Kemudian, dia mempertanyakan soal voters-nya atau pemilik hak suara. Bahkan, menurut dia, saat hendak menyampaikan hal itu, dirinya tidak bisa lantaran seperti dihalang-halangi oleh pengamana.
Sekedar informasi, ada 10 caketum yang maju, mereka adalah Arief Putra Wicaksono, Aven S. Hinelo, Benhard Limbong, Benny Erwin, Fary Demy Francis, Mochammad Iriawan (Iwan Bule), Rahim Soekasah, Sarman, Vijaya Fitriyasa, dan Yesayas.
Berdasarkan penelusuran, masih ada tiga kandidat di dalam ruangan kongres, mereka adalah Arief Putra Wicaksono, Rahim Soekasah dan Iwan Bule. [ipk]



