telusur.co.id -Jelang bergulirnya pesta sepak bola se-Asia Tenggara ASEAN Cup 2026 atau dulu bertajuk Piala AFF, PSSI Pers menggelar forum diskusi Water Break bertajuk "ASEAN HYUNDAI CUP 2026: Menjemput Gelar Pertama Indonesia" di N Brand Experience Center, SCBD, Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Diskusi ini digelar sebagai wadah untuk menyamakan visi serta membangun optimisme kolektif demi meraih trofi Piala AFF pertama bagi skuad Garuda. Forum diskusi menghadirkan jajaran federasi, pemain Timnas Indonesia, dan pengamat sepak bola nasional.
Hadir sebagai perwakilan dari PSSI, Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji menegaskan dalam menghadapi ajang dua tahunan tersebut persiapan Timnas Indonesia telah dirancang secara matang. Kesiapan ini mencakup program training centre (TC), proses seleksi pemain, hingga pemenuhan fasilitas penunjang skuad selama masa persiapan.
"Sampai saat ini negara kita belum pernah merasakan indahnya euforia menjadi juara Piala AFF di level senior. Karena itu, menurut saya momentum tahun 2026 ini sangat tepat," ujar Sumardji dalam paparannya.
Sumardji lebih lanjut menjelaskan bahwa pemusatan latihan dijadwalkan akan mulai berlangsung di Bali pada 5 Juli 2026 mendatang hingga turnamen resmi bergulir.
Selama proses tersebut, tim pelatih akan menerapkan dua tahap seleksi. Dari total 46 pemain yang masuk dalam radar pemantauan, selanjutnya hanya akan dipilih sekitar 24 hingga 26 pemain terbaik berdasarkan keputusan akhir yang berada di tangan tim pelatih yang dipimpin oleh juru taktik, John Herdman.
Menurut Sumardji, persaingan di panggung Asia Tenggara tidak hanya menguji kualitas teknis semata, tetapi juga menguji ketahanan fisik dan mental para pemain.
Kendati demikian, ia mengaku sangat optimistis Skuad Garuda bakal mampu meraih prestasi maksimal dengan dukungan susunan persiapan matang.
"Saya optimistis pada Piala AFF 2026 nanti kita bisa meraih apa yang menjadi cita-cita, keinginan, dan harapan seluruh masyarakat Indonesia," ujar Sumardji.
Pada kesempatan yang sama penjaga gawang Timnas Indonesia, Cahya Supriadi, menyatakan kesiapan penuh dari seluruh elemen pemain sekaligus menegaskan bahwa para pemain sangat memahami besarnya ekspektasi publik dan siap melahap menu latihan intensitas tinggi yang disiapkan tim pelatih demi membawa pulang trofi perdana ke tanah air.
"Kami bertekad untuk meraih gelar juara. Karena itu, kami akan menjalani seluruh program latihan yang sudah disiapkan oleh coach John dan berusaha melaksanakan setiap menu latihan dengan maksimal," kata Cahya.
Di sisi lain, pemanggilan ke tim nasional ini menjadi momen emosional bagi Cahya. Ia menceritakan nostalgia ketika dirinya tumbuh sebagai penggemar mantan kiper timnas, Markus Horison, saat menyaksikan gelaran Piala AFF 2010 silam.
"Saat Piala AFF 2010 saya mengidolakan Markus Horison. Bahkan saya sangat ingin membeli jersi kiper yang bermotif polkadot tapi belum kesampaian. Tapi alhamdulillah sekarang saya justru bisa memakai jersi timnas secara langsung," kenang Cahya.
Sementara itu, gelandang muda enerjik asal klub Persija, Rayhan Hannan, mengungkapkan John Herdman telah menanamkan mentalitas juara sejak awal menyusun roadmap atau peta jalan Timnas Indonesia. Target yang bertahap namun jelas tersebut dinilai menjadi suntikan motivasi ekstra bagi para penggawa skuad Merah Putih.
"Targetnya adalah menjadi juara Piala AFF, kemudian melanjutkannya di FIFA ASEAN Cup, dan selanjutnya mencapai target di Piala Asia. Roadmap tersebut secara tidak langsung memberikan motivasi yang lebih besar kepada seluruh pemain," tegas Hannan.
Seperti Cahya, Hannan juga mengungkapkan rasa bangganya karena kini bisa berada di satu lapangan dengan para pemain senior yang dahulu hanya bisa ia saksikan lewat layar kaca atau dari tribun stadion. Ia mengingat momen pada ajang Piala AFF 2016 saat Andik Vermansah masih aktif membela timnas Indonesia, serta Piala AFF 2022 ketika ia datang langsung ke stadion demi menyaksikan aksi Witan Sulaeman dan Egy Maulana Vikri berlaga.
"Saat itu saya berpikir, semoga suatu hari nanti saya bisa bermain bersama mereka, alhamdulillah sekarang impian itu terwujud," pungkas pemain berusia 22 tahun tersebut.
Dari sudut pandang pengamat sepak bola nasional, Marco Tampubolon, menilai turnamen antarnegara Asia Tenggara ini tetap memegang nilai historis dan prestise yang sangat tinggi bagi publik sepak bola Indonesia. Status Indonesia yang sudah enam kali keluar sebagai runner-up tanpa pernah sekalipun mencicipi gelar juara justru menjadi bahan bakar utama mengapa turnamen tahun ini terasa krusial.
"Sebuah tim nasional pada akhirnya akan dinilai dari trofi yang berhasil diraih. Apa pun turnamen yang diikuti akan menjadi bagian dari sejarah sebuah tim nasional. Semoga pada 2026 ini Indonesia akhirnya bisa meraih gelar Piala AFF pertama yang sudah lama kita nantikan," tutur Marco.
Pada Piala AFF 2026, Indonesia tergabung bersama Kamboja, Timor Leste, Singapura, dan Vietnam. Optimisme untuk meraih prestasi tertinggi terus dimunculkan salah satunya melalui forum diskusi Water Break - PSSI Pers agar mampu mensinergikan seluruh elemen sepak bola nasional dengan tekad yang sama.



