telusur.co.id - Pada Senin 9 Maret 2020, ada 2 berita penting terkait Virus Covid-19. Pagi hari diberitakan kasus positif terinfeksi virus COVID-19 bertambah sebagai kasus nomor 05 dan kasus No. 06.
Menjelang sore, juru bicara Covid-19 Indonesia Dr.Achmad Yurianto di hadapan media massa menyampaikan ada pertambahan 13 kasus positif virus Covid-19. Beberapa kasus berhubungan dengan kasus sebelumnya. Dengan demikian sudah 19 kasus positif yang tinggal di Jakarta dan di luar Jakarta termasuk ada pasutri dan WNA.
Breaking news 10 Maret jam 19.00 oleh Juru Bicara Negara khusus Virus Covid-19 mengkonfirmasi tambah 8 kasus positif baru sehingga menjadi 27 orang, ada penularan dari luar negeri dan penularan dalam negeri.
Ahli Utama/alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand, Dr.Abidinsyah Siregar mengatakan, jika dianalisis dari grafik pertambahan sejak tanggal 2 Maret (2 kasus), 4 Maret (2 kasus baru), 8 Maret (2 kasus baru), 9 Maret (13 kasus baru) 10 Maret dengan 8 kasus baru, tampak jelas trend eskalatif pertambahan mengarah deret ukur.
"Jika mengikuti sebagian pendapat epidemiolog yang mengatakan 1 kasus bisa berkembang menjadi 4 kasus baru, maka keadaan ini bisa memperburuk.
Karena ya harus ada upaya total strategis menghadapi ancaman nyata virus COVID-19 ini," kata Abidinsyah dalam keterangan yang diterima telusur.co.id, Rabu (11/3/20).
Abidinsyah mengungkapkan, sudah saatnya Presiden Joko Widodo selaku pemegang Komando Crisis Center Virus Corona mempertimbangkan "Gerakan Nasional".
Pasalnya, satu-dua Kementerian sudah tidak bisa dipaksakan memangku masalah ini.
"Sudah saatnya seluruh kekuatan nasional formal dan non-formal digerakkan untuk secara bersama menangkal Virus Covid-19 dengan Protokol Tunggal," ujarnya.
Terkait upaya setempat, gerakan cepat Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat sangat diapresiasi. Dengan kewenangan otonomi, mereka telah melakukan tanggap cepat. Bahkan Pemprov. Bahkan DKI Jakarta membuat kebijakan jemput kasus suspect, agar tidak menularkan.
Dewan Masjid Indonesia (DMI) dipimpin langsung Ketua Umumnya HM Jusuf Kalla sudah turun langsung melakukan penyemprotan desinfektan di sekitar mesjid di Jakarta Selatan.
Namun, imbauan pemerintah belum mendapat respons luas dari masyarakat.
Mungkin kurang informasi, dan tidak ada penggerak.
Untuk kasus di luar Indonesia, ada 3 negara yang menarik untuk dilihat caranya merespons virus Corona.
"Italia lambat merespons, pada 10 Maret ada 9.172 kasus dengan 463 kematian dan baru 724 yang pulih. Italia menjadi negara kedua terbanyak kasus suspect corona setelah China, dan menjadi momok bagi Eropa," terangnya.
Di Arab Saudi, begitu mendapat laporan ada jamaah umroh dari UEA dan Kuwait yang suspect virus corona, Pemerintah Kerajaan langsung membuat kebijakan menutup kedatangan jamaah umroh dari 22 negara dan yang sedang umroh dipercepat. Kebijakan dijalankan secara ketat dan tegas.
"Arab Saudi mencatat 20 kasus dan 1 telah dinyatakan pulih. Tidak ada kematian," ungkapnya.
Sementara di Israel, Perdana Menteri membuat kebijakan mengeluarkan semua wisatawan manca negara keluar negara itu, termasuk wisatawan rohani. Sekalipun kasus positif 46 orang masih dalam perawatan, 4 sembuh dan tidak ada kematian.
"Dari data WHO 10 Maret, tercatat jumlah total kasus terinfeksi positif virus Corona sebanyak 114.541 orang, yang pulih 64.266 orang. Meninggal sejak Desember 2019 sebanyak 4.028 orang (6 persen). Dalam kondisi serius ada 5.771 orang," paparnya.
Dia menjelaskan, dalam pendekatan Public Health Management Disaster, digunakan respons profesional menghadapi setiap kegawatdaruratan untuk melindungi masyarakat (yang rentan terpapar).
"Membangun peran pendekatan, yaitu edukasi, mengajak dan memobilisasi masyarakat untuk mencapai partisipasi yang kuat dalam kesiapsiagaan yang meliputi pengawasan, pengamatan, penelitian, pencarian, pengumpulan data dan sosialisasi kebijakan," katanya.
Adapun, titik rawan paparan virus Covid-19 adalah:
1.Ada 135 pintu masuk dan keluar wilayah Indonesia yang masih rawan.
2.Ada sejumlah WNI/WNA saat fase puncak virus masuk ke Indonesia dan belum semua terpantau.
3.Ada ribuan terminal Bus, Stasion KA, Pasar, Mall, RS/Puskesmas dan tempat-tempat umum lainnya, jangankan spanduk peringatan, petugas pun belum ada.
4.Ada ribuan Kantor Pemerintah, Swasta, Hotel, Sekolah juga tanpa spanduk dan petugas penyuluh.
Dia menjelaskan, model gerakan nasional yang perlu dilakukan adalah, pertama, semua tempat-tempat umum Pemerintah, TNI, Polri, Swasta, Lembaga Asing, wajib menerapkan Protokol Cegah Virus Covid-19.
"Kedua, seluruh penumpang moda transportasi darat, laut dan udara, diwajibkan menjalankan Protokol pencegahan virus," sebutnya.
Ketiga, pemerintah dapat mempertimbangjan mobilisasi ASN dan TNI/Polri serta mahasiswa program studi Kedokteran dan Kesehatan sebagai penyuluh pesehatan bagi seluruh masyarakat. Dan keempat, Pusat Penelitian Universitàs dan lembaga sejenis dilibatkan untuk menemukan vaksin virus Corona dan vaksin DBD.
"Gerakan nasional akan mengkoordinasikan semua fungsi kesehatan dan mengendalikan faktor pemberat termasuk kerawanan ekonomi dan konsumsi," katanya.
"Saatnya bapak presiden menggerakkan komando Crisis Center virus Corona," tandasnya. [Tp]



