telusur.co.id - Direktur Utama PT Pos Indonesia Daud Joseph mengungkapkan bahwa perusahaan tengah menjalankan sejumlah mandat strategis dari Danantara, mulai dari audit laporan keuangan 2025, restrukturisasi bisnis, hingga konsolidasi BUMN sektor logistik.
Hal tersebut disampaikan dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI yang juga menjadi ajang perkenalan jajaran direksi baru PT Pos Indonesia.
"Kami perkirakan tanggal 1 Juli sudah mulai beroperasi satu perusahaan surviving entity untuk meleburkan tujuh perusahaan yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri," ujar Joseph usai rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Senin (22/6) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.
Di tahap awal, dari 15 perusahaan BUMN sektor logistik yang ada, saat ini PT. Pos Indonesia telah memproses 7 perusahaan. Setelah tahap pertama ini selesai, PT Pos Indonesia berencana akan melanjutkan proses penggabungan terhadap dua perusahaan BUMN logistik lainnya yang saat ini masih dalam tahap kajian dan menunggu persetujuan Danantara.
Lebih lanjut, Joseph menyatakan bahwa perusahaan yang genap berusia 280 tahun pada tahun ini, memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan banyak perusahaan logistik lain yang umumnya fokus berinvestasi di kota-kota besar saja. Salah satu keunggulan yang dimiliki PT Pos Indonesia berupa jaringan dan infrastruktur yang telah tersebar di berbagai pelosok Nusantara. Tercatat, saat ini PT Pos Indonesia memiliki 5.597 titik layanan.
Keunggulan ini menjadi modal utama PT Pos Indonesia dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat baik di kota besar maupun di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
"Oleh karena itu pertama, di dunia digital ini kami akan berkolaborasi dengan para pemain logistik dan kurir baik itu yang berbasis lokal maupun pemain internasional yang turun ke Indonesia," ungkapnya.
Selain itu, Joseph mengakui bahwa saat ini, perusahaan tengah mengembangkan customer interface dalam bentuk aplikasi-aplikasi yang bertujuan untuk memudahkan para pelanggan. Aplikasi-aplikasi tersebut antara lain Pos Aja, layanan untuk pengiriman kurir atau paket, Pospay, platform keuangan digital yang berfungsi untuk melakukan pembayaran tagihan dan penggajian serta yang terakhir adalah GLID, platform digital untuk mengintegrasikan seluruh perusahaan logistik.
"Jadi di era digital ini pesan dari anggota Dewan tadi adalah PT Pos Indonesia bukan hanya sekedar bertahan, tetapi malah menjadi yang unggul diantara pemain-pemain logistik yang ada di Indonesia," tegasnya.
Dirinya berharap agar tahap awal yang sedang mereka kerjakan saat ini berjalan lancar tanpa adanya hambatan.
"Nanti baru di tahun kedua biasanya baru akan ada harapan dari kita setelah semuanya smooth, karyawan semuanya sudah menggunakan sistem yang sama, baru nanti akan ada namanya value creation atau pertambahan nilai," terangnya.
Jadi Salah Satu dari Lima Anchor Logistik Nasional
Di kesempatan yang sama, Dirut Pos Indonesia Daud Joseph menjelaskan bahwa Peraturan Menteri Nomor 8 Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat terdapat sekitar 700 pelaku usaha kurir dan logistik di Indonesia.
Dari 700 pelaku usaha kurir dan logistik yang ada, rencananya pemerintah akan membuat sebuah skema yang bernama hub and spoke. Skema ini membagi perusahaan tersebut dalam dua kategori. Ada perusahaan yang menjadi anchor atau jangkar sedang perusahaan lainnya akan menjadi network.
"Nah sebagai anchor nanti dia akan bekerja sama dengan network-network," ungkapnya.
Saat ini PT Pos Indonesia telah terdaftar di Komdigi sebagai salah satu dari lima perusahaan yang berstatus anchor, dari total 700 perusahaan yang ada.
"Ke depan nanti akan terus diupdate siapa yang berminat dan siapa yang eligible untuk terdaftar sebagai anchor karena untuk menjadi anchor itu ada prasyaratnya," ujarnya.
"Nanti semuanya akan bermitra, berkolaborasi," tambahnya.
Ke depan, dirinya berharap agar pada saat BUMN sektor logistik telah menyatu, maka seluruh order atau logistik yang ada di Indonesia tertuju hanya pada satu BUMN yang mampu melayani secara keseluruhan.
"Sebagai informasi dari tujuh entitas perusahaan yang bergabung ini kan ada yang berbasis darat, misalnya POS Logistics, misalnya Krakatau Jasa Logistik, misalnya lagi ada KPL, anak perusahaannya Dana Reksa.”
PT Pos Indonesia juga telah berkolaborasi dengan salah satu e-commerce yang berada di Indonesia pada saat ini. Hal tersebut ditandai dengan adanya aktivitas pengiriman dari marketplace yang menggunakan jasa PT Pos Indonesia.
"Kira-kira (dalam satu hari) sekitar 60 ribuan paket kita itu adalah dari marketplace," pungkasnya.



