telusur.co.id - Pernyataan politikus PDIP Aria Bima yang menyebut Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kerap menggunakan strategi playing victim menjelang Pemilu, dibalas oleh Partai Demokrat. 

Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menganggap, justru yang kerap melalukan playing victim adalah kader-kader PDIP. Aksi menangis kader PDIP ketika memprotes kenaikan harga BBM di era SBY, misalnya.

“Yang suka playing victim itu mungkin teman-teman Aria Bima yang pakai adegan menangis seakan-akan korban dan dizalimi ketika BBM dinaikkan di era Pemerintahan Bapak SBY. Padahal harga minyak dunia tinggi sekali, mencapai 120 bahkan 150 USD per barel,” kata Herzaky, kepada wartawan, Rabu (21/9/22).

Hal sebaliknya ketika kader PDIP berkuasa dimana Presiden Joko Widodo menaikkan harga BBM, PDIP tidak melakukan adegan "nangis-nagisan" lagi. Padahal, harga minyak dunia sedang turun, bahkan pernah diangka 32-35 USD per barrel. 

"Dulu ternyata teman-teman Aria Bima itu pura-pura peduli, pura-pura jadi korban alias playing victim saat BBM dinaikkan di era SBY,” sindir Herzaky.

Aria Bima sebelumnya menyebut, SBY pernah mengatur pelaksanaan pemilu agar hanya ada dua pasangan capres dan cawapres, sehingga Demokrat bisa memenangkan Pemilu 2009. Menurutnya, SBY dan Demokrat melakukan ‘settingan’ untuk memenangkan Pilpres.[Fhr