telusur.co.id - Hasil survei terbaru Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden (capres) 2029, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta beberapa gubernur seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sherly Tjoanda.
Peneliti IPI, Abdan Sakura, menjelaskan munculnya tokoh-tokoh baru tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, hingga visi-misi dan program kerja. Ia mencontohkan Sjafrie Sjamsoeddin memiliki skor 44 persen pada indikator kepemimpinan dan ketokohan, 17 persen untuk rekam jejak, 12 persen dari rekomendasi media dan lingkungan, serta 10 persen dari integritas.
“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral,” kata Abdan. Ia menambahkan celah ini membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi perubahan peta koalisi atau absennya “pemain utama”.
Hasil survei menempatkan Presiden Prabowo Subianto di puncak elektabilitas dengan 22,3 persen, jauh mengungguli tokoh lainnya. Posisi kedua ditempati Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (12,2 persen) dan Ganjar Pranowo (9 persen). Sementara itu, Sjafrie berada di urutan ke-7 dengan elektabilitas 7,5 persen, disusul Purbaya 4,9 persen dan Sherly Tjoanda 3,8 persen. Tokoh kepala daerah lain yang masuk sepuluh besar antara lain Anies Baswedan (8,5 persen), Dedi Mulyadi (7,9 persen), dan Pramono Anung (7,8 persen).
Menurut Abdan, hasil ini menunjukkan bahwa nama-nama besar masih mendominasi persepsi publik, baik dalam penilaian kelayakan maupun elektabilitas, yang menegaskan pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam imajinasi pemilih. Namun, jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang relatif moderat mengindikasikan publik mengenal dan menilai tokoh-tokoh tersebut, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan.
Survei IPI digelar pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 dengan 1.241 responden berusia 17–65 tahun dari 35 provinsi di Indonesia. Teknik sampel yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan margin of error sebesar ±2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. [ham]



