telusur.co.id - Waketum DPP PAN, Totok Daryanto mengatakan keinginan Zulkifli Hasan untuk maju kembali pada Kongres mendatang merupakan hak yang dijamin oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PAN.

“Dalam berpartai kita harus berpegang pada konstitusi partai yaitu AD/ART. Acara kongres di antaranya adalah membahas revisi AD/ART. Konstitusi PAN tidak membatasi jabatan Ketum hanya satu periode. Jadi tidak ada halangan bagi Ketum untuk menjabat kembali melalui kongres partai sebagai Ketum periode 2020-2024,” ungkap Totok melalui keterangan tertulisnya, Jumat.

Totok menanggapi desakan dari sebagian kader partai dengan mengatakan Ketum hanya boleh menjabat 1 periode. Bahkan ada yang mengatakan apabila Zulkifli Hasan bersedia maju lagi dalam kongres tahun depan maka hal itu dianggap menjilat ludah sendiri.

Sebagai orang dekat Zulhas, Totok mengaku perlu memberikan penjelasan. Kata dia, sebagai pribadi tentu Zulhas bebas untuk memiliki keinginan seperti yang pernah dia katakan cukup hanya menjabat satu periode dalam memimpin PAN.

Ketika situasi politik dewasa ini muncul arus bawah yang disuarakan oleh 28 Ketua DPW mendaulat Zulhas untuk kembali memimpin PAN, maka persoalan bergeser dari urusan mempribadi (baca: keinginan mengabdi sebagai Ketum cukup satu periode) dengan urusan kemaslahatan umum (baca: desakan untuk memimpin dua periode).

“Bila Zulhas memilih berpijak pada kepentingan pribadi, maka akan banyak kader yang menganggap Zulhas pemimpin yang kerdil. Sikap yang bijak bagi Zulhas tidak ada pilihan lain dia harus mau maju lagi dalam kongres yang akan datang, berjuang kembali bersama kader partai untuk mengantarkan PAN sebagai partai pemenang dalam Pemilu 2024,” katanya.

Kalaupun ingin membatasi masa jabatan satu periode, ditegaskan Totok, untuk memperjuangkan di forum resmi. “Bagi kader partai yang menginginkan batasan jabatan Ketum hanya satu periode silakan berjuang dalam kongres untuk mengubah aturan jabatan Ketum dalam AD/ART PAN.”

Selanjutnya, setiap partai politik harus memiliki strategi yang tepat dalam konstelasi politik nasional mutakhir. “Kita semua tahu hasil Pemilu 2019 menghasilkan kabinet sekarang di mana Prabowo Subianto bergabung menjadi bagian dari pemerintah.

Sementara di internal PAN masih ada sekelompok kecil kader yang terjebak dalam pikiran sempit antara oposisi dan koalisi, yang sesungguhnya sudah tidak relevan dalam situasi politik mutakhir,” imbuh dia.

Munculnya beberapa calon Ketum yang sudah terekspos belakangan ini, masih mencerminkan pergulatan pemikiran politik yang sempit tersebut. Banyak kader yang ingin PAN agar “move on” dari situasi politik saat Pemilu yang lalu. “Dari situlah muncul dukungan arus bawah agar Zulkifly Hasan memimpin kembali,” tandasnya. [ham]