telusur.co.id - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Jakarta Bersuara mengkritik sejumlah kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam penanganan Covid-19. Mereka menilai kebijakan itu kurang tepat dan cenderung bernuansa politis ketimbang solutif.
Selain menyoroti soal permintaan karantina wilayah atau lockdown lokal yang mereka nilai sebagai langkah terburu-buru tanpa melihat dampak ikutannya, aliansi juga mengkritik soal upaya pencegahan yang dinilai kurang maksimal.
Aliansi yang diklaim terdiri dari BEM Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), BEM Uhamka, Kalbis Institute, BEM Jayabaya, BEM Esa Unggul, BEM Trilogi dan BEM Stikes Binawan itu menggelar konferensi pers terkait virus corona bertajuk "Lockdown Solusi atau Politisasi" di MM Juice, Cikajang, Jakarta Selatan, Sabtu (4/4/20).
Namun, salah satu BEM yang diklaim masuk dalam Aliansi BEM Jakarta Bersuara yakni BEM Universitas Trilogi membantah keterlibatan mereka dalam konferensi pers tersebut.
Dalam surat pernyataan yang diterima redaksi, Senin (6/4/20) BEM Universitas Trilogi Periode 2020-2021 Kabinet Abhinaya Dhakara mengklarifikasi hal itu.
"Pihak yang bersangkutan dalam Konferensi Pers adalah mahasiswa Universitas Trilogi yang merupakan Demisioner Ketua BEM 2018 dan bukan anggota aktif kepengurusan BEM Trilogi 2020," tulis surat pernyataan tersebut.
Dalam pernyataan itu, BEM Universitas Trilogi mengimbau kepada seluruh stakeholders dan mahasiswa Universitas Trilogi untuk lebih berhati-hati dalam menerima informasi dari media agar tidak mudah terprovokasi karena dapat memecah persatuan dan kesatuan.
Dalam pernyataan yang berkop surat BEM Universitas Trilogi itu, mereka juga menyayangkan terkait dengan narasi yang beredar di media.
"Karena tidak relevan dan tidak terkoordinasi dengan BEM Trilogi 2020 secara massif terkait mekanisme pengkajian narasi yang telah beredar di media massa," ujarnya.
Sementara itu, BEM UHAMKA menegaskan bahwa informasi yang beredar di media tidak sepenuhnya benar. Terdapat informasi yang dilebih-lebihkan dan tidak sesuai dengan apa yang disampaikan pada konferensi pers tersebut. Yang dimaksud adalah pernyataan bahwa Aliansi BEM DKI Jakarta tidak setuju dengan kebijakan karantina wilayah yang dikeluarkan oleh Pemprov DKI Jakarta.
"Kami selaku BEM UHAMKA tidak pernah menyatakan sikap setuju atau tidak setuju akan adanya kebijakan tersebut. Dengan terselenggaranya konfernsi pers ini, kami mengkritisi Pemprov DKI Jakarta tentang kesiapan pemerintah dalam pengambilan keputusan ini," tulis pernyataan yang ditandatangani Presiden BEM UHAMKA Ronaldo Zulfikar itu.
Ronaldo juga meminta semua pihak khususnya warga Jakarta untuk lebih kritis terhadap redaksi yang dibangun oleh media dengan mencari tahu kebenarannya. [Tp]



