Soroti Lonjakan Harga Avtur, Tiket Pesawat Mahal Dinilai Ancam Logistik dan Pariwisata - Telusur

Soroti Lonjakan Harga Avtur, Tiket Pesawat Mahal Dinilai Ancam Logistik dan Pariwisata

Anggota Komisi V DPR RI, Erna Sari Dewi. Sumber foto:ist

telusur.co.id - Anggota Komisi V DPR RI, Erna Sari Dewi, menyoroti dampak luas kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur yang dinilai menjadi pemicu utama melonjaknya tarif penerbangan domestik.

Menurut legislator Fraksi Partai NasDem itu, lonjakan harga tiket pesawat bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi telah menjadi persoalan global yang memengaruhi industri penerbangan dunia.

“Kita pahami harga avtur meningkat, dan memang pemerintah sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa diperbolehkan terhadap kenaikan ini, karena kita semua tahu bukan Indonesia saja yang mengalami kenaikan tiket, tetapi hampir seluruh dunia,” kata Erna, Rabu (27/5/2026).

Ia mengungkapkan, kenaikan harga avtur bahkan memaksa sejumlah maskapai mengambil langkah penghematan ekstrem demi mempertahankan operasional mereka.

“Bahkan kita lihat ada beberapa penerbangan yang sudah mengurangi jam terbangnya, dan ada juga maskapai yang sudah tidak terbang lagi karena harga avtur yang tidak terkendali,” ujarnya.

Erna menegaskan bahwa persoalan mahalnya tiket pesawat tidak bisa dipandang hanya sebagai masalah mobilitas penumpang. Menurutnya, dampak terbesar justru terasa pada sektor logistik nasional.

Ketika biaya penerbangan naik, tarif pengiriman barang melalui jalur udara ikut melonjak. Kondisi itu, kata dia, akan berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok dan barang dagangan di masyarakat.

“Ini bukan hanya soal angkutan orang, tetapi juga logistik. Ketika logistik naik karena harga pesawat naik, maka yang dirasakan masyarakat adalah harga barang yang ikut mahal,” jelasnya.

Karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melalui Komisi V meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret agar tarif penerbangan tidak kembali mengalami kenaikan.

“Kita berharap pemerintah bisa mengendalikan harga tiket untuk tidak naik lagi dengan berbagai upaya yang dilakukan saat ini,” kata Erna.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintah melakukan relaksasi regulasi pada sejumlah rute penerbangan, terutama menuju kawasan destinasi wisata unggulan.

Menurutnya, jika akses penerbangan semakin mahal dan sulit, maka sektor pariwisata nasional berpotensi kehilangan wisatawan dan berdampak terhadap penerimaan negara.

“Tentu harus ada relaksasi regulasi, terutama untuk tujuan yang memiliki destinasi wisata. Kalau tidak, ini akan berpengaruh terhadap wisatawan yang mau berkunjung,” ujarnya.

“Pengaruhnya tentu pada pengurangan pendapatan negara. Siklus ekonomi itu yang harus dipertahankan,” tutupnya.


Tinggalkan Komentar