Sri Bintang Mau Gagalkan Pelantikan Jokowi, Ini Respons GJI - Telusur

Sri Bintang Mau Gagalkan Pelantikan Jokowi, Ini Respons GJI


telusur.co.id - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya (PMJ) akan memeriksa aktivis gaek Sri Bintang Pamungkas (SBP) pada Rabu (11/9/19) hari ini.

SBP akan diperiksa terkait pernyataannya dalam video viral yang menyebut akan menjatuhkan dan menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024, Ir. Joko Widodo dan KH. Ma'ruf Amin.

"Yang bersangkutan (SBP) dijadwalkan untuk diperiksa pada Rabu tanggal 11 September 2019," ujar Kabid Humas PMJ, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Argo Yuwono, Selasa (10/9/19).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Nasional Gerakan Jaga Indonesia (GJI), Boedi Djarot menilai, mudah sekali membaca pikiran SBP yang berani mengancam akan menjatuhkan dan menggagalkan pelantikan Jokowi-Ma'ruf.

Pertama, Boedi Djarot menduga bahwa SBP jauh-jauh hari meyakini bahwa pertempuran ideologi tidak akan berhenti usai Pilpres 2019. Hal ini dapat disimpulkan berdasarkan keterangan SBP kepada media yang menyebut video viral tersebut dibuat sekitar dua tahun yang lalu.

"Ke-dua, SBP percaya kekuatan sosial politik di bawah panji khilafah berkembang dengan massif. Karenanya, SBP yakin kekuatan yang dimiliki akan mampu menjatuhkan Jokowi," ujar Boedi Djarot dalam keterangannya, Selasa (10/9/19) malam.

Ketiga, menggeliatnya kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan terhadap Freeport dianggap sebagai kesempatan besar untuk mewujudkan tujuan yang bersangkutan.

Selebihnya, SBP pun diduga meyakini dari konflik horizontal di Papua akan memunculkan isu ketidakadilan dan pelanggaran HAM yang akan dilirik oleh dunia internasional. Harapannya, isu tersebut akan memperkuat landasan Papua Merdeka yang akan diutarakan dalam sidang PBB akhir tahun ini.

Kalau hitungan ini benar terjadi, kata Boedi, maka tidak menutup kemungkinan kerusuhan di Papua akan mengerucut pada isu referendum yang akan memicu kerusuhan di sejumlah daerah, terutama di ibu kota Jakarta.

"Nah, kalau situasi dan kondisi di ibu kota tidak kondusif, tentu tidak menutup kemungkinan pelantikan pun bisa dipindah. Daerah yang relatif aman untuk pelantikan Jokowi-Ma'ruf dimungkinkan di Yogyakarta. Kenapa? Karena Yogyakarta dalam situasi tertentu pada 1946 pernah menjadi ibukota revolusi. Tapi semoga ini tidak terjadi," pungkasnya.

Sebelumnya, Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) melaporkan aktivis gaek Sri Bintang Pamungkas ke polisi atas kasus dugaan penyebaran ujaran kebencian melalui media sosial.

Laporan itu terdaftar dalam nomor laporan polisi LP/5572/IX/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus tanggal 4 September 2019.  [asp]


Laporan : Fahri Haidar
 


Tinggalkan Komentar